- memang kinerjanya luar biasa,
- atau ada kecenderungan menyaring informasi yang tidak menyenangkan.
- Meningkatnya ketidaksesuaian antara cerita dan fakta
Perhatikan apakah sering muncul perubahan versi cerita, alasan yang berubah-ubah, dokumen yang tidak cocok dengan kenyataan lapangan, atau laporan yang berbeda antarbagian.
Semakin sering terjadi inkonsistensi, semakin besar kemungkinan ada informasi yang dimanipulasi.
- Tidak ada yang berani menyampaikan kabar buruk
Ini merupakan indikator budaya yang sangat kuat. Jika dalam rapat:
- semua laporan selalu positif,
- tidak ada kritik,
- tidak ada masalah yang diangkat,
padahal kenyataannya organisasi menghadapi tantangan.
Maka kemungkinan besar orang mulai belajar bahwa menyampaikan fakta yang tidak menyenangkan lebih berisiko daripada menyembunyikannya.
Baca Juga: 6 Mitos Bahasa Tubuh yang Sering Disalahpahami, Menghindari Kontak Mata Pasti Tanda Berbohong?
- Pelanggaran kecil berulang tanpa konsekuensi
Yang perlu diperhatikan bukan hanya pelanggarannya, tetapi respons organisasi. Misalnya:
- manipulasi data kecil dibiarkan,
- laporan terlambat dianggap biasa,
- konflik kepentingan kecil diabaikan.
Ketika tidak ada konsekuensi, pesan yang diterima anggota organisasi adalah "Perilaku ini dapat diterima." Di sinilah slippery slope biasanya mulai bergerak semakin cepat.
- Muncul budaya "asal pimpinan senang"
Dalam budaya ini:
- fakta disesuaikan dengan harapan pimpinan,
- informasi negatif disaring,
- laporan dibuat agar terlihat baik.
Akibatnya pimpinan menerima gambaran yang tidak akurat tentang kondisi sebenarnya.
***