Pejuangkantoran.com – Jumlah download Spotify per bulan di Indonesia ternyata mengalahkan Tik Tok! Angka ini disajikan oleh Sensor Tower, platform analitik aplikasi pihak ketiga (app.sensortower.com). Sportify mencatat angka 18 juta sedangkan Tik Tok di angka 8 juta.
Di Indonesia sendiri, Spotify berada di urutan ke-3 dalam estimasi download bulanan di Google Play Store, setelah Instagram (36 juta), WhatsApp Business (26 juta), dan mengungguli Threads (17 juta), Instagram Lite (16 juta).
Untuk kategori Musik dan Audio, Sportify berada di urutan pertama meninggalkan jauh YouTube Music (3 juta), JOOX (200 ribu), dan Langit Musik (10 ribu). Ini menasbihkan bahwa Spotify menjadi platform musik dan audio yang paling populer saat ini di Indonesia.
Spotify dalam 3 tahun terakhir (2023-2025) mencatat revenue yang signifikan naik. Dari yang minus 13,24 miliar Euro di tahun 2023, menjadi plus 17,19 miliar Euro di tahun 2025.
Mengawali pada tahun 2011, Spotify lahir ketika sejumlah aplikasi sejenis sudah ada seperti Pandora, Last.fm, Rhapsody, Deezer, Slacker Radio, dan iTunes (Apple). Dalam waktu setahun, pada Agustu 2002, Spotify sudah punya lebih dari 15 juta pengguna aktif dan 4 juta pelanggan berbayar.
Baca Juga: Mau Kerja Dengan Waktu dan Tempat yang Fleksibel? Kamu Wajib Menerapkan Agile Working!
Scalling yang sangat cepat ini karena sejumlah faktor seperti integrasi Facebook, negosiasi lisensi label musik, ekspansi geografis yang agresif, model freemium yang tepat, dan inovasi produk (seperti Discover Weekly pada tahun 2015).
Namun, di balik meja ada kerja lincah untuk rilis fitur baru yang cepat, memperbaiki bug, eksperimen dang A/B testing dengan kecepatan tinggi. Ini semua menjadi salah satu faktor pendukung yang membuat Spotify terus kompetitif seiring skalanya yang membesar.
Di masa awal-awal, Spotify menerapkan cara kerja yang sangat “lincah” sehingga bisa membuat aplikasi ini relate dan relevan terus dengan perubahan-perubahan yang terjadi. Cara kerja ini menurut Henrik Kniberg dan Anders Ivarson sebagai pendekatan agile working.
Kniberg adalah seorang agile coach yang bekerja bersama Spotify pada masa itu. Sementara Ivarson adalah organizational coach (pelatih organisasi) di Spotify yang melengkapi Kniberg. Mereka berdua yang menulis buku putih "Scaling Agile @ Spotify".
Baca Juga: Tupperware Tak Jadi Bangkrut, Malah Janji Mau Berubah Jadi 'Perusahaan Start-Up'
Joakim Sunden pada Maret 2013 di engineering.atspotify.com menulis artikel berjudul Agile a al Spotify. Dalam artikel ini menyebutkan 5 nilai inti (disebutnya sebagai “the skinny”) Agile a la Spotify, yaitu:
- Continuous improvement: terus mencari cara untuk berkembang, baik secara pribadi maupun organisasi. Melakukan retrospektif (berkaca dari yang sudah lewat) secara rutin, berani bereksperimen, tidak ada budaya saling menyalahkan, dan melihat perubahan sebagai peluang.
- Iterative development: percaya pada siklus belajar yang pendek untuk memvalidasi asumsi secepat mungkin. Setiap langkah terkecil sekalipun diidentifikasi sebagai Pelajaran, sering melakukan demo dan rilis, memakai A/B testing, punya siklus hipotesis–ukur–analisis–belajar–sesuaikan.
- Simplicity: kesederhanaan jadi panduan saat scaling, baik dalam solusi teknis maupun cara kerja/organisasi. Kesederhanaan mendukung adanya transparansi dan reuse, menghilangkan kompleksitas itu butuh waktu dan dilakukan secara bertahap, menghindari over-engineering (produk terlalu rumit, terlalu canggih atau biaya yang melebihi fungsi) dan tidak asal potong jalan, dan menghindari single point of failure sehingga ketika ada satu kesalahan tidak melumpuhkan semuanya.
- Trust: memercayai individu dan tim untuk membuat keputusan sendiri soal cara kerja mereka. Tim dipercaya untuk membuat keputusan, budaya saling kritik yang membangun, diberikan otonomi untuk menentukan proses kerja sendiri dan menyelesaikan masalah sendiri.
- Servant leadership: manajer berfokus pada coaching, mentorship, dan menyingkirkan hambatan, bukan mendikte. Keputusan yang transparan, kolaborasi didorong oleh manajer bukan mendikte solusi, membantu mengatasi hambatan yang tak bisa diselesaikan squad/chapter sendiri, ada sesi coaching/mentoring one-on-one
Buku putih ini digunakan saat sesi tukar pikiran atau koordinasi di dalam sekelompok orang (tribe) yang memiliki minat, tujuan, atau fokus kerja yang sama dalam sebuah komunitas atau struktur organisasi dan onboardingg karyawan baru.
Langkah ini didukung oleh CTO Spotify. Namun, Sportify sendiri, metode "agile working" itu bukan metode kerja baku yang diterapkan terus menerus di Spotify.