kubikel

Remote Work Mengubah Cara Kita Bekerja saat Sakit, Kerjaan Tetap Gas Pol Meski Badan Kurang Fit

Jumat, 28 Agustus 2026 | 22:11 WIB
Ilustrasi: Dukungan bagi karyawan yang sedang sakit bisa beragam bentuknya, misalnya, mengizinkan karyawan untuk bekerja dari rumah. (Freepik)

PejuangKantoran.com - Badan lagi greges atau kena flu berat, tapi karena kerjanya dari rumah (work from home), kamu nggak enak kalau harus izin sakit? Akhirnya, laptop tetap dibuka, balasin chat kantor, lalu ikut rapat online sambil tiduran.

Fenomena bekerja saat sakit ini rupanya makin marak terjadi sejak sistem kerja remote dan hybrid menjadi budaya kerja yang baru. Batas antara rumah dan pekerjaan yang makin tipis bikin banyak karyawan tetap lanjut kerja walau kondisi fisik atau mental lagi nggak fit.

Sebuah studi baru dari Professor Sir Cary Cooper (The University of Manchester) bersama Profesor Luo Lu dan Profesor Shu-Fang Kao mengungkapkan bahwa memaksa bekerja saat sakit (presenteeism) kini sudah bergeser bentuknya.

Baca Juga: Penyedia Layanan Sertifikasi Manajemen BSI Group Buka Lowongan Kerja Strategic Business Manager

Dulu, presenteeism terjadi ketika kita datang ke kantor sambil batuk-batuk. Sekarang, kita tetap mengerjakan tugas-tugas, ikut meeting, bahkan ikut training, tapi sambil rebahan di rumah karena kita lagi WFH.

Budaya selalu standby yang merugikan

Profesor Sir Cary Cooper mengatakan bahwa dunia kerja sekarang sudah berubah secara dramatis. Tapi, pemahaman kita tentang apa artinya bekerja saat sakit masih tertinggal.

"Teknologi memang bikin kita bebas kerja dari mana saja dan kapan saja. Tapi, ini bisa jadi bumerang kalau kita merasa harus selalu standby setiap saat," ujarnya.

Dalam penelitian tersebut, para ahli mengusulkan cara baru untuk memandang presenteeism. Jadi, bagaimana kebiasaan bekerja dalam kondisi kurang sehat, dengan lokasi dan tingkat keterlibatan yang bervariasi.

Peneliti membaginya berdasarkan tiga dimensi utama: jenis masalah kesehatan (fisik atau mental), lokasi kerja (on-site atau remote), serta tingkat upaya (jadwal penuh atau cuma merespons hal mendesak). Kombinasi dari tiga variabel ini menghasilkan berbagai bentuk presenteeism yang berbeda.

Baca Juga: Berperan sebagai Ustaz di Film 'Munafik: Melawan Iblis', Arya Saloka Jadi Belajar Agama Islam Lagi

Sebagai contoh, orang yang kena flu bisa saja memilih tetap masuk kantor full day, atau bekerja di rumah dan hanya membalas email penting.

Begitu pula dengan karyawan yang sedang berjuang dengan kecemasan (anxiety) atau depresi. Mereka bebas memilih tempat kerja dan bisa mengurangi tugas kalau memang lagi nggak fit.

Antara fleksibilitas dan kesehatan

Sisi positifnya, jam kerja dan lokasi yang fleksibel itu membuat karyawan bisa tetap menjaga tanggung jawabnya tanpa harus memperparah kondisi kesehatannya, atau menulari teman sekantor. Tetapi kalau tidak dibatasi, hati-hati ya, kebiasaan ini bisa memicu burnout.

Halaman:

Tags

Terkini