Separuh Karyawan Lebih Suka Jam Kerja Normal dari Jam 09.00-17.00 Ketimbang Jam Kerja Fleksibel

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 21 Oktober 2023 | 13:06 WIB
Ilustrasi: Limapuluh persen karyawan ternyata lebih suka jam kerja normal, yaitu Senin hingga Jumat pukul 09.00-17.00, ketimbang jam kerja yang fleksibel. (Freepik/Drazen Zigic)
Ilustrasi: Limapuluh persen karyawan ternyata lebih suka jam kerja normal, yaitu Senin hingga Jumat pukul 09.00-17.00, ketimbang jam kerja yang fleksibel. (Freepik/Drazen Zigic)

PejuangKantoran.com - Pandemi telah mengubah preferensi sebagian besar pekerja untuk menjalankan sistem kerja fleksibel.

Namun sebuah survei dari Gallup baru-baru ini menemukan bahwa 50 persen karyawan ternyata lebih suka jam kerja normal, yaitu Senin hingga Jumat pukul 09.00-17.00, daripada harus berhenti dan lanjut bekerja pada saat mereka paling produktif.

Survei ini melibatkan 18.943 pekerja di Amerika, dan untuk kalangan pekerja keras putih persentasenya turun sedikit menjadi 45%.

Gallup juga mendapati bahwa para manajer ternyata tidak mengenal karyawan mereka sebaik yang mereka kira.

Baca Juga: Jangan Salah Sangka Ternyata Menurut Survei, 3 dari 5 Diaspora Mau Pulang ke Indonesia

Para pemimpin yang termasuk dalam survei tersebut mengira bahwa tiga perempat karyawan lebih memilih pekerjaan di mana mereka bisa melakukan pekerjaan dan aktivitas lainnya bergantian sepanjang hari.

“Kesalahpahaman umum yang dimiliki para pemimpin tentang kerja fleksibel adalah bahwa karyawan ingin bisa melakukan pekerjaan dan kehidupan pribadi mereka sepanjang hari,” tutur Jeremie Brecheisen, direktur pelaksana Gallup CHRO Roundtable.

Bekerja saat produktif

Memang, para pemimpin tidak bisa mengabaikan separuh golongan karyawan lainnya yang ingin pekerjaan dan kehidupan pribadi bisa berjalan beriringan.

Sebelumnya, CEO Nespresso di Inggris, Anna Lundstrom, mengatakan bahwa membiarkan pekerjaan dijalankan dengan fleksibel di sela-sela waktunya dalam sehari memungkinkan dia untuk tetap melakukan pekerjaan tanpa harus dibatasi di meja.

Daripada membagi pekerjaan dan kehidupan pribadinya menjadi 50/50, ia berupaya agar kehidupan kerjanya mengalir saja.

Sementara itu, karyawan yang sudah menjadi orangtua bisa mendapat manfaat karena perusahaan tidak menerapkan kapan pekerjaan harus mulai dan selesai. Yang penting, mereka menjalankan etos “bekerja saat produktif”.

Gallup juga menemukan, ketika karyawan tidak bekerja dengan cara yang mereka sukai, mereka jadi enggan terlibat dengan kantor.

Mereka juga cenderung mengalami kelelahan di tempat kerja, yang membuat mereka secara aktif mencari pekerjaan baru.

Baca Juga: Survei: 64% Orang Indonesia Punya Wearable Gadget, dari Smartwatch, Smartglasses, dan Lainnya

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Fortune

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X