Nixon lalu menanggapi: "Saya tidak setia pada sumpah jabatan saya untuk didikte oleh minoritas yang memiliki sudut pandang tersebut."
"Jadi malam ini, kepada Anda, the great silent majority (mayoritas rakyat Amerika yang tidak bersuara), saya meminta dukungan Anda,” kata Nixon, dalam pidato yang terkenal dengan sebutan The Silent Majority Speech” itu.
Baca Juga: Budisatrio: Ucapan Selamat untuk Prabowo dari Pemimpin Dunia Bukti Pengakuan atas Proses Demokrasi
Silent majority yang dipopulerkan oleh Richard Nixon itu mengacu pada sekelompok besar orang Amerika konservatif yang tidak mengungkapkan pendapat mereka secara terbuka.
Hal ini berlawanan dengan minoritas vokal (noisy minority) yang secara aktif berdemonstrasi menentang perang Vietnam.
Nah, Presiden Donald Trump membawa kembali gagasan silent majority ini ke permukaan selama kampanye kepresidenannya pada tahun 2016, di mana ia berulang kali menggunakan istilah tersebut untuk menyapa para pendukungnya.
Malas ribut
Menurut kamus Mirriam-Webster, silent majority adalah bagian terbesar dari populasi suatu negara yang terdiri atas orang-orang yang tidak terlibat secara aktif dalam politik, dan tidak mengekspresikan pendapat politik mereka secara terang-terangan.
Baca Juga: Petugas KPPS Meninggal Dunia, Seberapa Berat Kerja Tim KPPS?
Dalam penggunaan Nixon, silent majority adalah sekelompok besar orang di suatu negara atau kelompok yang tidak mengungkapkan pendapat mereka secara terbuka atau blak-blakan.
Akibatnya, the noisy minority alias yang suka berbicara lantang di media sosial, atau berkomentar keras di setiap postingan berita, mengira semua orang berpendapat dengan mereka karena tidak menerima tanggapan yang sama lantangnya dari pendukung partai lawan.
Silent majority adalah orang-orang seperti kamu -yang pasif, rendah hati, atau malas ribut- yang jumlahnya ternyata jauh lebih besar. Sering kali, media juga salah menafsirkan kondisi opini publik dengan memperhatikan suara-suara yang paling berisik ini.
Baca Juga: Hasil Quick Count Tunjukkan Prabowo-Gibran Unggul, Gibran Ingin Segera Sowan ke Paslon 1 dan 3
Silent majority memilih diam bukan karena belum tahu siapa yang harus dipilih, melainkan karena sudah yakin dengan pilihannya dan tidak mau menimbulkan konflik di antara kelompoknya yang berbeda pilihan.
Mereka memang tidak blak-blakan mengungkapkan dukungannya pada salah satu paslon, tetapi jumlah mereka cukup besar untuk memenangkan paslon pilihan mereka.
Artikel Terkait
Warganet 'Serbu' Akun Prabowo, Tanya Merk Kemeja Kotak-kotak Biru: 'Pak, Spill Bajunya Beli di Mana?'
Daftar 40 Under 40 : Daftar Anak Muda Paling Berpengaruh 2024 di Indonesia
10 Penyakit Akibat Stres: Tak Cuma Sakit Kepala, Tapi Juga Depresi sampai Kematian Dini!
Banyak Penyakit Muncul Akibat Stres, Gimana Caranya Lawan Stres dan Bikin Tubuh Sehat Lagi?
China Ajarkan Generasi Z atau Gen Z Rayakan Pernikahan Bersama Keluarga
2 Hal yang Wajib Menjadi Perhatian dan Kepedulian Lebih Banyak Orang Indonesia di Samping Stunting
Cara Indonesia Menggaet Lebih dari 2,5 Juta Turis China ke Bali