PejuangKantoran.com - Suhu yang mencapai –34 derajat Celcius, angin yang membawa salju dengan kecepatan lebih dari 160 km per jam, serta longsoran salju yang mengancam jiwa, adalah kondisi biasa di Gunung Everest.
Gunung ini menjulang setinggi 8.849 meter di antara Nepal dan Tibet di Himalaya, dengan puncaknya melampaui sebagian besar awan di langit.
Upaya untuk mendaki Everest membutuhkan pelatihan dan pengkondisian selama berbulan-bulan, terkadang bertahun-tahun. Toh, tidak ada jaminan pendaki bisa selamat mencapai puncak.
Baca Juga: Aktor Korea Yeo Jin Goo Kepincut Masakan Padang Saat Fan Meeting di Jakarta
Faktanya, lebih dari 300 orang tewas di gunung tersebut. Pendaki Inggris George Mallory yang hilang pada 8 Juni 1924, hanya 240 meter menjelang puncak, baru ditemukan pada 1999.
Sedangkan jenasah rekannya, Andrew Irvine, tak pernah ditemukan.
Namun gunung ini masih menarik ratusan pendaki yang bertekad mencapai puncaknya setiap musim semi, menjelang peringatan hilangnya dua pendaki tersebut.
Apa yang memotivasi pendaki untuk mencapai Puncak Everest?
“Saya pikir saya berada dalam kondisi yang cukup baik”
Jacob Weasel, seorang ahli bedah trauma, berhasil mencapai puncak Everest Mei 2023 setelah melakukan pengkondisian selama hampir satu tahun.
“Saya mengenakan ransel seberat 22 kilogram dan menaiki tangga selama dua jam tanpa masalah,” kata Weasel kepada CNN. “Jadi, saya pikir saya berada dalam kondisi yang cukup baik.”
Baca Juga: Vermont State University Berikan Gelar Kehormatan Dokter Bidang Sampah untuk Kucing Kampus
Namun, Weasel baru mengetahui bahwa kebugarannya tidak sebanding dengan sifat atletis yang dibutuhkan oleh gunung tersebut.
Pendaki yang ingin mencapai puncak biasanya melakukan rotasi aklimatisasi untuk menyesuaikan paru-paru mereka dengan tingkat oksigen yang menipis begitu mereka tiba di gunung.
Proses ini melibatkan pendaki gunung yang melakukan perjalanan ke salah satu dari empat kamp yang ditentukan di Everest dan menghabiskan satu hingga empat hari di sana sebelum melakukan perjalanan kembali ke bawah.
Artikel Terkait
Dewan Pers dan Komunitas Pers Tolak Tegas Draf RUU Penyiaran dari DPR: Menggembosi Kebebasan Pers
Karyawan Pria Bisa Dukung Rekan Wanita agar Lebih Maju di Tempat Kerja, Begini Caranya!
Tim Bedah Rumah Sakit yang Didukung Lebih Banyak Dokter Wanita Meningkatkan Pemulihan Pasien
Jogja-Netpac Asian Film Festival Umumkan Platform Baru, JAFF Market, di Festival Film Cannes
8 Negara Terbaik untuk Digital Nomad dan Remote Worker
Mau Kuliah di Selandia Baru? Lincoln University Buka Program Beasiswa Internasional 2024-2025
Karyawan Saat Ini Dituntut Menguasai AI, tapi Pahami Risiko Jika Belajar AI Secara Mandiri