Ratusan Pendaki Tewas di Everest, tapi Mengapa Pendaki Lain Masih Ingin Menaklukkan Puncaknya?

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 18 Mei 2024 | 22:33 WIB
Base camp Everest di Khumjung, Nepal. Ratusan pendaki tewas saat berada di zona kematian Everest, tetapi mengapa ratusan pendaki lainnya masih bermimpi mencapai puncaknya? (Unsplash/Martin Jernberg)
Base camp Everest di Khumjung, Nepal. Ratusan pendaki tewas saat berada di zona kematian Everest, tetapi mengapa ratusan pendaki lainnya masih bermimpi mencapai puncaknya? (Unsplash/Martin Jernberg)

“Terkadang hal ini tidak praktis karena cuaca buruk, atau karena tubuh mereka akan membeku di gunung,” kata Arnette. “Jadi, sangat sulit untuk memindahkannya.”

Proses pemulihan jenazah sangat panjang dan terkadang mustahil. Misi penyelamatan dan pencarian dengan helikopter kerap mengakibatkan penyelamat tewas dalam upaya mereka menyelamatkan orang lain.

Baca Juga: Bahasa Tubuh yang Paling Tidak Disukai Gen Z dan Milenial, Bikin Mereka Tersinggung Berat!

“Menyaksikan matahari terbit dari ketinggian 8,8 km”

Pendakian sejauh 900 meter dari kamp empat ke puncak bisa memakan waktu antara 14 hingga 18 jam. Oleh karena itu, pendaki gunung biasanya meninggalkan kamp pada malam hari.

“Menyaksikan matahari terbit dari ketinggian 8,8 km dan melihat bayangan piramida Everest diproyeksikan ke lembah di bawah kita, mungkin salah satu hal terindah yang pernah saya lihat dalam hidup saya,” lanjut Weasel.

“Saya tidak pernah merasa sekecil itu,” kenangnya. “Perpaduan antara kerendahan hati dan keterhubungan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri Anda adalah tempat yang tepat untuk mendekati keberadaan kita di planet ini.”

Di puncak terdapat lebih banyak gunung daripada yang bisa kita hitung. Setelah sekitar 20 menit hingga satu jam, pendaki biasanya mulai turun kembali ke kaki gunung.

“Lebih besar dari dirimu sendiri”

Alan Arnette mencoba mendaki Everest tiga kali sebelum berhasil mencapai puncak.

“Tiga percobaan pertama saya, saya tidak tahu alasannya,” kata Arnette. Ketika ibunya didiagnosis mengidap penyakit Alzheimer, dia memandang tujuan pendakiannya dengan cara yang berbeda.

Baca Juga: Posisi Pekerjaan Ini Ternyata Bikin Kamu Berisiko Tinggi Jadi Burnout

“Saya ingin melakukannya untuk menggalang dana bagi penderita Alzheimer dan menghormati ibu saya,” kata Arnette.

Ada sekitar 300 orang yang telah mendapat izin dari pemerintah Nepal untuk mendaki gunung tersebut tahun ini. Menurut Arnette, jumlah tersebut menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Saya pikir salah satu alasannya adalah karena ada 18 kematian tahun lalu, dan orang-orang menyadari bahwa Gunung Everest adalah gunung yang berbahaya.”

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: CNN

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X