Akibat IHSG Trading Halt 30 Menit, Marina Budiman Kehilangan Setengah Kekayaannya dalam Waktu 3 Hari

photo author
Sigit Triwahyu, Pejuang Kantoran
- Kamis, 20 Maret 2025 | 18:05 WIB
Ilustrasi: Indonesia mengalami kejatuhan pasar terburuk dalam satu dekade terakhir, pada Selasa (18/3/2025). (Freepik)
Ilustrasi: Indonesia mengalami kejatuhan pasar terburuk dalam satu dekade terakhir, pada Selasa (18/3/2025). (Freepik)

Pejuangkantoran.com - Saat Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham (trading halt) pada Selasa (18/3/2025), Indonesia mengalami kejatuhan pasar terburuk dalam satu dekade terakhir.

Pihak yang terdampak langsung dari peristiwa ini adalah para investor yang menyaksikan nilai kepemilikan mereka anjlok. Salah satunya adalah Marina Budiman, wanita terkaya di Indonesia.

Akibat trading halt tersebut, ia kehilangan separuh kekayaannya hanya hanya dalam waktu tiga hari ketika saham perusahaannya anjlok.

Kehilangan setengah kekayaan dalam 3 hari

Awal Maret 2025, Marina selaku komisaris utama DCI Indonesia (DCII), operator pusat data terbesar di Indonesia, tercatat memiliki kekayaan bersih sebesar US$7,5 miliar atau sekitar Rp123,5 triliun.

Ini terjadi setelah saham perusahaannya melonjak melampaui batas atas perdagangan. Kenaikan tersebut bahkan menempatkannya sebagai wanita terkaya di Indonesia, menurut Bloomberg Billionaires Index.

Baca Juga: 12 Istilah Investasi yang Perlu Diketahui Investor Baru sebelum Membeli Surat Berharga Negara

Namun, kemenangan beruntun tersebut berbalik ketika pasar saham Indonesia jatuh karena berbagai faktor domestik, seperti prospek fiskal yang memburuk dan kebijakan ekonomi Presiden Prabowo Subianto.

Hanya dalam waktu tiga hari, kekayaan bersih Marina anjlok menjadi hanya setengahnya dan bahkan DCII menjadi pemain terburuk dalam krisis pasar saham yang sangat mengkhawatirkan tersebut.

Kekayaan Marina Budiman turun US$3,6 miliar atau sekitar Rp59 triliun atau hingga setengahnya.

Harga saham yang terus turun

Salah satu penyebab rentannya DCII adalah karena 78% sahamnya hanya dimiliki oleh empat orang, yaitu Marina, pendiri Han Arming Hanafia dan Otto Toto Sugiri, serta miliarder Anthoni Salim.

Mohit Mirpuri, seorang fund manager di SGMC Capital Pte di Singapura, mengatakan, “Perubahan harga DCII sebagian besar merupakan fungsi dari free float yang ketat.”

Ia menjelaskan bahwa dengan spread bid-offer sangat sempit, ini membuat setiap posisi yang substansial dapat menggerakkan saham secara signifikan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: Malay Mail, Liputan 6, Jakarta Globe

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X