Tools Pengenalan Suara dan Ekspresi Wajah dari BRIN Ini Bikin Penyandang Disabilitas Lebih Mudah Komunikasi!

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 11 Oktober 2025 | 17:19 WIB
Ilustrasi: BRIN mengembangkan teknologi face expression recognition dan speech recognition untuk membantu penyandang disabilitas lebih mudah berkomunikasi. (Freepik)
Ilustrasi: BRIN mengembangkan teknologi face expression recognition dan speech recognition untuk membantu penyandang disabilitas lebih mudah berkomunikasi. (Freepik)

“Inovasi yang efisien dan hemat sumber daya penting sekali supaya teknologi ini bisa diakses lebih luas, termasuk oleh pengguna dengan perangkat sederhana. Dengan begitu, AI benar-benar menjadi sarana pemerataan akses teknologi,” kata Hilman.

Facial expression recognition

Sementara itu, facial expression recognition bisa menjadi sarana komunikasi alternatif bagi penyandang disabilitas yang kesulitan berbicara.

Baca Juga: 'Legenda Kelam Malin Kundang' Jadi Upaya Joko Anwar Dekonstruksi Ulang Kisah Aslinya agar Lebih Relate

“FER menjadi salah satu bidang yang menarik karena bisa membantu mereka yang mengalami kesulitan berkomunikasi secara verbal,” ujar Gembong Satrio Wibowanto, Perekayasa Ahli Madya PRKAKS BRIN.

Penelitian BRIN sendiri difokuskan pada pengembangan sistem yang adaptif terhadap ekspresi wajah pengguna, dan bisa bekerja secara real-time.

“Teknologi ini diharapkan mampu mendeteksi emosi pengguna secara akurat sehingga interaksi antara manusia dan mesin dapat berlangsung lebih empatik dan intuitif,” harap Gembong.

Meski begitu, BRIN menekankan bahwa teknologi ini harus bisa diakses semua kalangan. Sekarang ini sudah ada berbagai inovasi yang membantu penyandang disabilitas dalam aktivitas sehari-hari.

“Beberapa contoh seperti screen reader bagi yang memiliki keterbatasan penglihatan atau speech recognition bagi mereka yang kesulitan mendengar. Ini menunjukkan bagaimana AI bisa membantu aktivitas dan komunikasi,” ujar Anto Satriyo Nugroho, Kepala PRKAKS BRIN.

Yang lebih penting lagi, teknologi harus bisa dimanfaatkan untuk memperjuangkan kesetaraan, timpal Komisioner Komisi Nasional Disabilitas, Rachmita Maun Harahap.

Baca Juga: Lowongan Kerja English Voice Over Artist-Dubbing AI Operator (Adaptasi Naskah) di EER Global

“Teknologi itu bukan (sebagai bentuk) belas kasihan, tapi alat untuk memperjuangkan kesetaraan,” ungkap Rachmita.

Dengan inovasi berbasis AI seperti speech-to-text dan text-to-speech, misalnya, penyandang disabilitas netra maupun tuli jadi sangat terbantu untuk berkomunikasi. Bahkan, bisa membuka peluang baru dalam dunia pendidikan dan pekerjaan.

Kunci keberhasilan dalam menciptakan ekosistem teknologi yang benar-benar inklusif adalah kebijakan publik yang berpihak, serta keterlibatan komunitas disabilitas dalam proses risetnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: BRIN, Ewa.pub

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X