Alasannya beragam. Sebagian ingin memperkuat budaya perusahaan (64%), meningkatkan produktivitas (62%), dan memaksimalkan ruang kantor (45%).
Uniknya, ada 8% perusahaan yang mengaku menambah hari kerja justru untuk mendorong karyawan yang tidak cocok agar mengundurkan diri.
Namun para ahli mengingatkan, memaksa karyawan lebih sering datang ke kantor belum tentu meningkatkan produktivitas atau budaya kerja.
“Budaya itu tumbuh dari komunikasi, rasa percaya, dan kebersamaan yang bermakna. Bukan semata karena duduk di ruangan yang sama,” kata Haller.
Baca Juga: Apa Itu Data Entry, yang Sedang Jadi Posisi yang Dicari Pemula atau Pencari Pekerjaan Tambahan
Insentif masih minim, karyawan mungkin kehilangan motivasi
Lebih parahnya lagi, sebagian besar perusahaan bahkan tidak memberi insentif apa pun agar karyawan mau ke kantor.
Dari seluruh responden, hanya 28% yang menawarkan insentif seperti acara sosial, makanan gratis, atau subsidi transportasi. Namun, yang memberi bonus atau bantuan penitipan anak jumlahnya jauh lebih sedikit.
Jadi, bisa dibilang tren kerja 2026 menunjukkan perubahan yang khas, dari fleksibilitas menuju kehadiran fisik.
Bagi kamu para pekerja, tantangannya ke depan adalah bagaimana tetap menjaga work-life balance, meskipun kantor kembali menjadi pusat aktivitas utama.
Artikel Terkait
10 Negara Tujuan Mahasiswa Internasional untuk Melanjutkan Studi di Bidang AI, Jerman Masih Favorit!
Jadi Ahli Waris Tapi Kok Malah Bayar Utang Orang yang Meninggal?
Satu Makanan yang Paling Direkomendasikan Kardiolog untuk Jaga Jantung Kamu Tetap Sehat
Lowongan Kerja Seru Jadi Tim “Entertainment Technical” Disney Cruise Line
Casio Luncurkan G-Shock DWN-5600, Jam Tangan Berbentuk Cincin yang Tangguh dan Tetap Gaya
Belajar Kepemimpinan dari Mandela, Jobs, dan Bezos Bahwa Quit adalah Salah Satu Keterampilan Untuk Itu
Bahasa Indonesia Menurut Kementerian Luar Negeri AS Termasuk Bahasa yang Sulit Dipelajari, lho!