Rupiah Menguat, Selamat dari Tekanan Level Rp 17.000 saat BI Rate Tetap

photo author
Christina A.S, Pejuang Kantoran
- Kamis, 22 Januari 2026 | 08:05 WIB
Ilustrasi mata uang Rupiah dan grafik nilau tukar valutas asing. (Sigit Triwahyu - Pejuangkantoran.com)
Ilustrasi mata uang Rupiah dan grafik nilau tukar valutas asing. (Sigit Triwahyu - Pejuangkantoran.com)

PejuangKantoran.com - Nilai tukar rupiah berhasil menguat pada Rabu (21/1/2026), sehingga terhindar dari tekanan psikologis di level Rp 17.000 per dolar AS setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan BI rate pada pertemuan kebijakan moneter terbaru. Keputusan itu dianggap sebagai salah satu langkah penting untuk menstabilkan kurs di tengah gejolak pasar global.

Pada pasar spot, rupiah sempat diperdagangkan di sekitar Rp 16.936 per dolar AS, menguat tipis sekitar 0,12 % dibandingkan hari sebelumnya. Sementara itu, nilai tukar Jisdor Bank Indonesia juga menunjukkan penguatan, meskipun dalam rentang yang terbatas.

Bank Indonesia secara resmi mempertahankan suku bunga acuan (BI rate) di level 4,75 % dalam rapat Dewan Gubernur teranyar. Keputusan ini sesuai dengan ekspektasi para analis dan ekonom, yang memandang bahwa penurunan suku bunga di tengah tekanan kurs dapat memperlemah rupiah lebih lanjut.

Langkah ini diambil dengan pertimbangan memperkuat stabilitas nilai tukar tanpa mengorbankan laju pertumbuhan ekonomi nasional, terutama ketika kurs rupiah berada dekat dengan level terlemahnya. Dengan menahan suku bunga, BI menjaga daya tarik instrumen investasi dalam rupiah dan membatasi tekanan keluar modal asing.

Baca Juga: Tak Hanya Diproduseri Dian Sastrowardoyo, 'Esok Tanpa Ibu' Juga Digarap Filmmaker Asia Tenggara

Penyebab Tekanan pada Rupiah

Dalam beberapa pekan terakhir, rupiah sempat melemah hingga nyaris menyentuh level Rp 17.000 per dolar AS, dipengaruhi oleh sentimen pasar internasional yang tidak stabil serta aliran modal keluar dari pasar negara berkembang. Kekhawatiran soal kebijakan moneter global, termasuk arah suku bunga Bank Sentral AS (The Fed), turut memberi tekanan pada nilai tukar.

Kendati begitu, BI terus memperkuat kebijakan stabilisasi lewat intervensi pasar spot, non-deliverable forward (NDF), domestic NDF, dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) untuk menopang likuiditas serta menjaga rupiah tetap pada fundamentalnya.

Baca Juga: Jenis SBN Ritel yang Ditawarkan Sepanjang 2026, Simak Jadwal Terbit dan Kenali Perbedaannya!

Prospek Rupiah dan Kebijakan ke Depan

Para analis memperkirakan BI akan tetap mengutamakan stabilitas nilai tukar dalam jangka pendek sambil terus mengamati perkembangan global dan domestik. Pemangkasan suku bunga, yang sebelumnya dilakukan di akhir 2024 dan sepanjang 2025, mungkin hanya akan dipertimbangkan jika tekanan kurs mereda dan imbal hasil aset rupiah kembali menarik.

Di tengah dinamika ini, bank sentral menegaskan kesiapan untuk terus menyesuaikan instrumen kebijakan guna mendukung stabilitas makroekonomi, dengan fokus utama fokus utama pada nilai tukar rupiah dan daya saing ekonomi Indonesia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Christina A.S

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X