PejuangKantoran.com - Seorang programmer asal China bernama Gao Guanghui (32) menarik perhatian publik internasional setelah meninggal secara mendadak akibat beban kerja berlebihan. Tragisnya, meskipun telah dinyatakan wafat, akun kerjanya masih menerima tugas dari rekan kerja sekitar delapan jam setelah kematiannya, melambangkan ekspektasi tanpa henti yang dihadapi banyak pekerja di sektor teknologi.
Keluarga mengatakan Gao sering pulang larut malam setelah menangani beban pekerjaan yang setara dengan tugas 6–7 orang, tidur hanya beberapa jam per hari dalam beberapa bulan terakhir menjelang kematiannya. Dokter kemudian menyatakan penyebab kematian sebagai serangan jantung mendadak, yang kemungkinan dipicu oleh tekanan kerja ekstremnya.
Kasus ini bukan satu-satunya tragedi akibat budaya kerja yang menekan di Asia. Di Jepang, ada istilah karoshi, yang secara harfiah berarti “kematian karena kerja terlalu keras,”yang telah mencatat banyak kasus kematian akibat jam kerja yang ekstrem, termasuk serangan jantung, stroke, dan bahkan bunuh diri yang terkait tekanan kerja berat. Laporan menunjukkan ratusan kematian terkait overwork terjadi setiap tahun di Jepang, yang memicu debat nasional tentang kebutuhan akan keseimbangan kerja-hidup.
Baca Juga: Siap-siap Terima THR Lebaran, Ini Tips Self Control Agar Duit Kamu Tak Langsung Lenyap
Di negeri tetangga Korea Selatan, fenomena serupa dikenal sebagai gwarosa. Baru-baru ini, seorang karyawan di sana yang bekerja hampir 80 jam dalam seminggu dilaporkan meninggal, dengan dugaan kuat bahwa kerja berlebihan berkontribusi pada keadaannya. Kasus ini pun memunculkan perdebatan tentang jam kerja panjang dan tanggung jawab perusahaan terhadap kesejahteraan karyawan.
Fenomena kematian akibat overwork juga bukan eksklusif di negara-negara maju; dalam laporan sebelumnya disebutkan bahwa di China, istilah guolaosi juga merujuk pada kematian karena kerja berlebihan yang dialami pekerja di berbagai sektor.
Secara keseluruhan, budaya kerja ekstrem dengan jam kerja panjang dan tekanan tinggi telah menjadi isu serius di banyak negara Asia. Di beberapa kasus, pekerja menghadapi jam lembur yang jauh melampaui standar peraturan tenaga kerja, yang tak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga mental. Organisasi kesehatan global menunjukkan bahwa kerja panjang, terutama di atas 55 jam per minggu, secara signifikan meningkatkan risiko stroke, penyakit jantung, dan kondisi kesehatan lainnya.
Kasus Gao dan tragedi lainnya menjadi pengingat kuat bahwa tekanan kerja yang ekstrem bukan hanya isu produktivitas, tetapi juga isu kesehatan masyarakat dan hak pekerja. Diskusi tentang keseimbangan kerja-hidup, perlindungan hukum, serta tanggung jawab perusahaan semakin menguat di Asia Tenggara dan kawasan lainnya, seiring meningkatnya kesadaran terkait dampak jangka panjang budaya kerja yang menuntut terlalu banyak.
Artikel Terkait
Kejutan Grammy Awards 2026 dari Busana Para Musisi, dari Roan Chappell hingga Justin Bieber
Yang Lagi Rame: Epstein Files, Dokumen Rahasia yang Mengungkap Skandal Para Petinggi Dunia
Siapa Saja Tokoh Elite Global yang Disebut dalam Skandal yang Diungkap dalam Epstein Files?
Seskab Teddy: 'Tidak Benar Prabowo Pakai Dua Pesawat Kepresidenan ke Luar Negeri, Oke?'
Jepang Punya Bar Unik: Minuman Gratis bagi Mereka yang Memikirkan Quit Job dan Konsultasi Karier
Netflix Siarkan Langsung Konser Comeback BTS dari Seoul ke Lebih dari 190 Negara
5 Kacang dan Biji-bijian yang Protein Nabatinya Lebih Tinggi daripada Telur
Sekjen Akui Kualitas SDM Komdigi Perlu Ditingkatkan, usai Google Drive Data Pelamar Bisa Dibuka Umum
Ide Jualan Takjil Ramadhan 2026: Praktis, Unik, dan Jadi Favorit Orang Kantoran
Rencananya Pemerintah Terapkan WFA di Hari Libur Lebaran 2026