Pemerintah Kaji WFH untuk Hemat BBM, Ini Kata Bahlil

photo author
Christina A.S, Pejuang Kantoran
- Rabu, 18 Maret 2026 | 10:10 WIB
Yang sangat menentukan dalam berhasil tim baik WFH, WFO, atau hybrid adalah strategi jitu dari manajer. (Google Gemini)
Yang sangat menentukan dalam berhasil tim baik WFH, WFO, atau hybrid adalah strategi jitu dari manajer. (Google Gemini)

PejuangKantoran.com - Pemerintah tengah mempertimbangkan kebijakan baru yang cukup menarik: penerapan work from home (WFH) sebagai salah satu cara untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM). Wacana ini disampaikan oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan mobilitas masyarakat.

Dalam keterangannya, Bahlil menyebut bahwa pemerintah saat ini masih mengaji berbagai opsi untuk mengurangi konsumsi BBM, salah satunya dengan mengurangi aktivitas perjalanan harian masyarakat melalui skema kerja jarak jauh.

Baca Juga: Apa Isi Goodie Bag Academy Awards Senilai Rp5,5 Miliar yang Dibagikan untuk Para Nominee?

WFH Jadi Salah Satu Opsi Penghematan Energi

Kebijakan WFH dinilai bisa menjadi solusi praktis, terutama untuk menekan penggunaan BBM dari sektor transportasi harian. Dengan berkurangnya mobilitas pekerja ke kantor, konsumsi bahan bakar diharapkan ikut menurun.

Selain WFH, pemerintah juga membuka kemungkinan opsi lain seperti penyesuaian pola kerja. Bahkan, Bahlil sempat menyinggung praktik di negara lain yang telah lebih dulu menerapkan kebijakan serupa sebagai langkah efisiensi energi.

Meski demikian, rencana ini belum menjadi keputusan resmi. Pemerintah masih melakukan kajian mendalam, termasuk mempertimbangkan dampaknya terhadap produktivitas, sektor industri, serta aktivitas ekonomi secara keseluruhan.

Baca Juga: 5 Ciri Orang dengan Kepribadian Otrovert

Langkah ini juga menunjukkan bahwa pemerintah mulai melihat pola kerja sebagai bagian dari strategi energi, bukan sekadar urusan ketenagakerjaan.

Wacana WFH untuk menghemat BBM menjadi sinyal bahwa perubahan gaya kerja bisa menjadi bagian dari solusi jangka panjang dalam menghadapi tantangan energi. Namun, implementasinya tentu tidak sederhana, mengingat tidak semua sektor dapat menjalankan sistem kerja jarak jauh.

Ke depan, keputusan pemerintah akan sangat bergantung pada hasil kajian menyeluruh, termasuk kesiapan infrastruktur dan dampaknya bagi masyarakat luas.

Jika diterapkan, kebijakan ini bukan hanya soal efisiensi BBM, tetapi juga bisa mengubah cara kerja masyarakat Indonesia ke arah yang lebih fleksibel dan adaptif.

 
 
 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Christina A.S

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X