news

Tren Baru di Tiongkok: Kaum Pekerja yang Lebih Memilih Jadi “Anak Penuh Waktu”. Apa Penyebabnya?

Senin, 9 Oktober 2023 | 17:27 WIB
Ilustrasi: Tenaga kerja Tiongkok yang merasa kelelahan dengan kehidupan kerja memilih kembali ke rumah. (Freepik/Lifestyle Memory)

PejuangKantoran.com - Jam kerja yang melelahkan dan pasar kerja yang suram memaksa generasi muda Tiongkok mengambil pilihan yang tidak biasa.

Tak sedikit dari mereka yang memutuskan untuk menjadi "anak penuh waktu". Tren ini terjadi karena banyak kalangan pekerja yang ingin kembali ke kenyamanan rumah. Mengapa?

Umumnya karena dua penyebab: mau beristirahat dari kehidupan kerja yang melelahkan, atau karena tidak bisa mendapatkan pekerjaan.

Baca Juga: Menurut Survei, Karyawan Gen Z Paling Sulit Ditangani di Tempat Kerja. Ada yang Tahu Kenapa?

Generasi muda Tiongkok, yang selalu diberitahu bahwa kerja keras yang dilakukan saat belajar dan mengejar gelar akan membuahkan hasil, kini merasa dikalahkan dan terjebak.

Lebih dari satu dari lima penduduk berusia antara 16 – 24 tahun menganggur di Tiongkok, bahkan tingkat pengangguran kaum muda telah mencapai titik tertinggi baru.

Menurut angka resmi yang dirilis pada Juli 2023, angka pengangguran sekarang mencapai 21,3%, dan menjadi angka tertinggi sejak pihak berwenang mulai menerbitkan data pada 2018.

Angka pengangguran tersebut juga tidak memperhitungkan pasar tenaga kerja pedesaan, yang artinya kemungkinan kaum muda yang menjadi pengangguran semakin banyak.

Maraknya diskriminasi di dunia kerja, dan tidak adanya work-life balance 

Sebenarnya, jika kaum muda menyebut kelelahan sebagai alasan mereka lebih memilih menjadi “anak penuh waktu”, tidak sepenuhnya mengejutkan. Ini karena Tiongkok terkenal dengan buruknya work life balance.

Budaya kerja di negara ini sering disebut dengan “996”, yang berarti normal bagi seseorang untuk bekerja dari pukul sembilan pagi sampai pukul sembilan malam, selama enam hari seminggu.

Jack Zheng, yang baru-baru ini meninggalkan raksasa teknologi Tiongkok Tencent, mengatakan bahwa dia harus membalas hampir 7.000 pesan teks terkait pekerjaan di luar jam kerja setiap hari.

Ia diharapkan melakukan "kerja lembur" tidak resmi tersebut, meskipun tidak diberi kompensasi. Akhirnya, ia menderita folikulitis, kelainan kulit yang disebabkan oleh peradangan pada folikel rambut, yang membuatnya berhenti bekerja.

Baca Juga: Upah Minimum Hanya untuk Pekerja di Bawah 1 Tahun, Lebih dari Itu Wajib Ada Kenaikan Gaji

Jack telah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, tetapi menurutnya orang-orang di sekitarnya tidak seberuntung itu.

Halaman:

Tags

Terkini