Masih banyak yang menghadapi “kutukan usia 35 tahun”, atau keyakinan yang tersebar luas di Tiongkok bahwa pemberi kerja enggan memberikan pekerjaan pada mereka yang berusia di atas 35 tahun. Mereka lebih memilih pekerja muda yang “lebih murah”.
Diskriminasi usia dan kesempatan kerja yang suram merupakan sebuah tantangan bagi mereka yang berusia pertengahan 30-an.
Mahasiswa juga putus asa
Tak hanya para pekerja, keputusasaan juga terjadi di kalangan mahasiswa. Media sosial Tiongkok juga dibanjiri dengan foto-foto kelulusan yang menunjukkan kekecewaan para lulusan baru.
Universitas dulunya merupakan sebuah tujuan elit di Tiongkok. Antara 2012 dan 2022, tingkat partisipasi meningkat dari 30% menjadi 59,6% karena semakin banyak generasi muda yang melihat gelar sarjana sebagai tiket menuju peluang kerja yang lebih baik.
Namun aspirasi tersebut berubah menjadi kekecewaan ketika pasar kerja merosot. Para ahli mengatakan pengangguran kaum muda kemungkinan akan bertambah buruk seiring dengan bertambahnya 11,6 juta lulusan baru yang memasuki pasar kerja.
"Situasinya sangat buruk. Orang-orang sudah lelah dan banyak yang mencoba untuk tidak ikut serta. Ada banyak keputusasaan," kata Miriam Wickertsheim, manajer umum perusahaan rekrutmen Direct HR yang berbasis di Shanghai.
Bruce Pang, kepala ekonom Tiongkok Raya di Jones Lang LaSalle, juga menyebut bahwa pemulihan ekonomi Tiongkok yang lebih lambat dari perkiraan pasca Covid adalah alasan utama tingginya angka pengangguran.
Baca Juga: Pemerintah Jepang Semakin Rajin Rekrut Pekerja Asing, tapi Terapkan Aturan Kerja yang Sulit
Beberapa perusahaan juga kurang bersedia mempekerjakan lulusan baru yang memiliki pengalaman kerja lebih sedikit dibandingkan pendahulunya karena lockdown di masa awal pandemi yang berkepanjangan.
Selain itu, tindakan keras yang dilakukan Tiongkok baru-baru ini terhadap banyak industri populer di kalangan profesional muda Tiongkok juga telah menghambat pasar kerja.
Peraturan yang melarang perusahaan teknologi besar, pembatasan terhadap industri bimbingan belajar, dan larangan investasi asing dalam pendidikan swasta, semuanya telah menyebabkan PHK.
Nie Riming, peneliti di Institut Keuangan dan Hukum Shanghai, mengatakan, “Menurut saya, sebagian besar pengangguran saat ini sangat membutuhkan pekerjaan, tetapi tidak dapat menemukannya.” (Elga Windasari)
Artikel Terkait
Pangeran Abdul Mateen Bakal Menikah Januari 2024, Pangeran William dan Kate Middleton Akan Hadir?
Walaupun Tahu Bakal Ribet, Syifa Hadju Tetap Ingin Menikah dengan Tata Cara Adat
Lowongan Kerja Full Stack Developer di PT Himalaya Everest Jaya, Yogyakarta
Shopee Indonesia Hentikan Penjualan Produk dari Luar Negeri, Mau Tahu Alasannya?
Kereta Cepat Jakarta-Surabaya via Cirebon dan Semarang akan Segera Terealisasi
Sekarang Perpanjang STNK Tahunan Bisa Dilakukan Secara Online, Begini Caranya!