PejuangKantoran.com - Meskipun hampir seluruh dunia sekarang mendukung Palestina, tetapi tidak mudah menjadi pendukung negara yang sedang dibom secara membabi buta.
Termasuk di media sosial. Tak jarang akun yang menyertakan kata Palestina (“Palestine”) akan di-banned.
Itulah sebabnya muncul simbol-simbol untuk menyebut Palestina tanpa perlu melakukannya secara terang-terangan. Salah satu yang sering digunakan saat ini adalah semangka, yang menjadi simbol yang kuat bagi warga Palestina.
Baca Juga: Tiket Konser Ed Sheeran di Jakarta Sudah Mulai Dijual, Satu Kategori Sudah Sold Out!
Sekadar informasi, menurut kantor media pemerintah Gaza, saat ini sudah ada 10.000 orang tewas dan hilang di bawah reruntuhan bangunan.
Di jalur Gaza, tercatat 8.796 orang tewas, termasuk 3.648 anak-anak dan 2.290 wanita, hanya dalam waktu 26 hari.
Oke, kembali ke semangka. Bagaimana bisa muncul semangka sebagai simbol Palestina, atau sebagai simbol solidaritas terhadap negara tersebut?
Bendera Palestina pernah dilarang oleh Israel
Sebenarnya, penggunaan semangka sebagai simbol Palestina bukanlah hal yang baru. Ini pertama kali muncul setelah Perang Enam Hari pada 1967, ketika Israel menguasai Tepi Barat dan Gaza, dan mencaplok Yerusalem Timur.
Pada saat itu, pemerintah Israel menjadikan pengibaran bendera Palestina di depan umum sebagai tindak kriminal di Gaza dan Tepi Barat. Untuk menghindari larangan tersebut, warga Palestina mulai menggunakan semangka sebagai simbol Palestina.
Baca Juga: Sistem Kerja 9 to 5 Disebut-sebut Tak Sehat, Apa Solusi buat Kamu yang Menjalaninya?
Ini karena ketika semangka dibelah, buah tersebut memiliki warna-warna yang sama seperti warna bendera nasional Palestina, yaitu merah, hitam, putih, dan hijau.
Pemerintah Israel tentu saja tidak suka dan menindak siapa pun yang menggunakan semangka sebagai simbol Palestina tersebut.
Seniman Sliman Mansour mengatakan kepada The National pada 2021, bahwa pada 1980 para pejabat Israel menutup sebuah pameran di Galeri 79 di Ramallah yang menampilkan karyanya dan karya-karya seniman lainnya, termasuk Nabil Anani dan Issam Badrl.
"Mereka mengatakan kepada kami bahwa melukis bendera Palestina dilarang, tetapi warnanya juga dilarang.