PejuangKantoran.com - Gibran Rakabuming Raka yang kini sudah resmi menjadi calon wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto. Namun isu Politik Dinasti mencuat.
Meski demikian, meski jadi satu-satunya pasangan yang punya calon termuda, namun isu politik dinasti yang berkembang di belakangnya memengaruhi elektabilitasnya.
Hasil survei terbaru Charta Politika menyebut pencalonan Gibran Rakabuming Raka, malah membebani elektabilitas capres Prabowo Subianto gara-gara politik dinasti.
Dalam survei yang dirilis pada Senin (6/11) Charta Politika merilis simulasi tiga pasang calon presiden-calon wakil presiden, Ganjar Pranowo-Mahfud MD mendapat elektabilitas tertinggi yakni 36,8 persen. Baca Juga: Sukuk Tabungan Seri ST011 Dibuka November 2023 Ini! Cocok buat Kamu yang Ingin Investasi Syariah
Disusul Prabowo Subianto-Gibran (34,7 persen), dan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (24,3 persen). Jumlah responden yang tidak menjawab adalah 4,3 persen.
Hal itu dinilai wajar oleh pengamat politik Universitas Airlangga (Unair), Airlangga Pribadi.
Menurutnya, penurunan elektabilitas Prabowo-Gibran merupakan konsekuensi dari semakin tingginya kesadaran publik.
Kesadaran muncul bahwa telah terjadi intervensi kekuasaan dalam meloloskan nama Gibran seusai putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang dipimpin sendiri oleh adik ipar Presiden Jokowi alias paman dari Gibran, Anwar Usman.
“Survei yang dilakukan oleh Charta Politika memperlihatkan tampilnya Gibran mendampingi Prabowo justru membebani Prabowo, alih-alih ikut memperkuat suara," kata Airlangga kepada media, Selasa (7/11/2023).
Baca Juga: Angga Yunanda Menaikkan Berat Badan 15 Kilogram untuk Menjadi Muklas di Budi Pekerti
"Hal ini tidak dapat dilepaskan dari persepsi tentang naiknya Gibran sebagai cawapres tidak bisa dipisahkan dari intevensi kekuasaan dan penggunaan institusi hukum MK sebagai instrumen kekuasaan."
Airlangga memaparkan, persepsi adanya intervensi kekuasaan di tubuh MK membuat pandangan publik bergeser, terutama bagi para pendukung Presiden Jokowi, dan tidak serta merta memperkuat kandidasi Gibran.
“Justru yang terjadi adalah penguatan tentang tampilnya Gibran sebagai simbol representasi politik dinasti Jokowi yang berusaha melanggengkan kekuasaan,” ujar doktor alumnus Murdoch University, Australia, tersebut.
Survei itu juga menyebutkan sebanyak 39,7 persen responden menyatakan percaya bahwa Presiden Joko Widodo turut campur dalam keputusan MK terkait batasan usia calon Wakil Presiden.