Saat ini, ada sekitar 40 produk Nestle yang dijual di Indonesia yang masuk ke dalam produk yang diboikot. Termasuk DANCOW, MILO, Nescafe, dan masih banyak produk terkenal lainnya.
Tidak adanya hubungan antara PHK di PT Nestle Indonesia dengan boikot produk pro Israel juga ditegaskan oleh Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) Adhi S Lukman.
Baca Juga: Baim Wong Puji Arya Saloka yang Banyak Berkontribusi Saat Bedah Naskah Film Lembayung
Ia membantah PHK tersebut berkaitan dengan efek domino perang Israel-Hamas dan menyebut perusahaan tersebut tengah melakukan otomasi. Menurutnya, langkah ini memang sudah seharusnya dilakukan untuk menekan biaya produksi.
"Saya sudah konfirmasi dengan pihak Nestle. Sebenarnya, PHK ini karena biaya yang terus meningkat cukup tinggi, sehingga mereka melakukan upaya-upaya untuk memangkas biaya produksi," kata Adhi S Lukman.
Adhi juga berpendapat bahwa langkah yang dilakukan Nestle ini sudah baik karena akan mengalihkan tenaga kerjanya untuk mengisi kebutuhan ekspansi.
Lagipula, saat ini industri pengolahan, termasuk industri makanan dan minuman, memang sedang menghadapi berbagai tantangan global. Sebut saja perubahan iklim hingga meningkatnya tensi geopolitik.
Karyawan yang di-PHK dapat kompensasi sesuai
Meski dianggap mendadak, tetapi PT Nestle tidak begitu saja lepas tanggung jawab terhadap para karyawan yang di-PHK. Mereka berkomitmen memperlakukan karyawan dengan adil dan terhormat.
Baca Juga: Gaji PNS akan Setara dengan BUMN, Pemerintah Ingin Tiru Kebijakan di Sejumlah Negara Maju
Manajemen berjanji, "Kami akan menyediakan kompensasi semestinya kepada mereka, dengan sepenuhnya mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku."
PT Nestle juga memastikan PHK yang dilakukan tidak akan menyebabkan gangguan dalam pelayanannya terhadap konsumen dan mitra bisnis di Indonesia. (Elga Windasari)