PejuangKantoran.com - Setelah selama tiga tahun Program Kartu Prakerja berfungsi sebagai program pelatihan dan bantuan sosial, pada awal 2023 pemerintah kembali menerapkan Skema Normal untuk program ini.
Skema Normal diterapkan karena pemerintah ingin kembali memfokuskan tujuan Program Kartu Prakerja hanya sebagai program pembangunan keterampilan, bukan yang lain.
Untuk itu, lembaga riset DEFINIT yang didukung oleh Asian Development Bank (ADB) melakukan studi rapid assessment terhadap para penerima Program Kartu Prakerja dari gelombang 48 – 50, atau gelombang di tiga bulan pertama Skema Normal kembali diberlakukan.
Baca Juga: Mau Mengurangi Konsumsi Gula? Ada 4 Pengganti Gula yang Direkomendasikan Para Ahli!
Studi tersebut dilakukan pada 8 – 30 Juni 2023 lalu, dengan tujuan sebagai berikut:
• Memahami persepsi dan kepuasan para penerima terkait program dalam skema normal.
• Mengetahui keunggulan dan keunikan proses bisnis Prakerja.
• Memberikan rekomendasi kebijakan konstruktif mengenai implementasi skema normal ke depan.
Hasil studi DEFINIT tentang Skema Normal Program Kartu Prakerja
Dari studi yang dilakukan DEFINIT, ada dua temuan utama mengenai manfaat Program Kartu Pekerja dengan Skema Normal yang didapatkan, yaitu:
• 95% penerima setuju bahwa Kartu Prakerja meningkatkan peluang mereka untuk mendapatkan pekerjaan.
• 83% penerima menilai bahwa Kartu Prakerja dapat meningkatkan keterampilan, kompetensi, dan produktivitas.
Lalu, untuk skema program yang kembali ke Skema Normal 2023, DEFINIT juga mendapatkan tiga temuan utama, yaitu:
• 93% penerima menyatakan bahwa besaran beasiswa pelatihan yang diberikan menarik.
• 87% penerima menyatakan bahwa besaran insentif pascapelatihan juga menarik.
• 77% penerima memiliki preferensi latihan secara umum menggunakan moda online, seperti lewat webinar atau pembelajaran mandiri.
Apa itu Skema Normal dalam Program Kartu Prakerja?
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2022, Skema Normal dalam Program Kartu Pekerja berarti tidak lagi bersifat semi bantuan sosial, sehingga lebih difokuskan pada peningkatan keahlian. Jadi, porsi biaya pelatihannya juga lebih tinggi daripada insentif.
Lalu, penyesuaian lainnya adalah pelaksanaan pelatihan yang dilakukan secara luring, daring, maupun bauran.