PejuangKantoran.com - Ada cerita jaket bomber biru tua di Halim Perdanakusuma atau Landasan Udara atau lanud TNI Angkatan Udara atau AU di Jakarta pada Rabu, 24 Januari 2024.
Selain Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, ada Presiden Joko Widodo, Ketua Komisi I Meutya Hafid, Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali, Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, serta tuan rumah Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo, sama-sama mengenakan jaket bomber biru tua.
Jaket bomber awalnya adalah jaket yang dipakai pilot pesawat pengebom sejak 1917.
Jaket bomber berguna untuk melindungi tubuh pilot agar tetap hangat selama di kokpit pesawat.
Kala itu, kokpit pesawat pengebom, kebanyakan pesawat berbaling-baling, tidak memiliki penutup alias terbuka begitu saja.
Maka dari itulah, jaket bomber menjadi kebutuhan bagi pilot pesawat pengebom saat dirinya mengudara.
Saat ini, penggunaan jaket bomber meluas hingga bidang fashion, tak sekadar sebagai busana kelengkapan militer angkatan udara atau AU.
Jaket bomber
Adalah Marsekal TNI Fadjar Prasetyo yang menyerahkan jaket-jaket bomber tersebut untuk dipakai pada perhelatan di Skadron 31 Halim Perdanakusuma tersebut.
Menteri Pertahanan Prabowo Subianto disaksikan Presiden Joko Widodo menyerahkan pesawat keempat C-130J Super Hercules untuk TNI AU.
Kata Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, Indonesia membeli pesawat C-130J Super Hercules lantaran pesawat bongsor Atawa berbadan besar dan lebar ini tercanggih plus terbaru di kelasnya.
Kementerian Pertahanan, kata Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, memilihkan C-130J Super Hercules lantaran daya jelajahnya yang mumpuni untuk melayani kepulauan-kepulauan di Indonesia.
C-130J Super Hercules juga tak membutuhkan landasan pacu yang panjang semisal 2000-2500 meter.
Ada 5 pesawat C-130J Super Hercules pesanan Indonesia dari pabrikan Lockheed Martin, AS.