PejuangKantoran.com - Istilah silent majority menjadi popular beberapa hari terakhir setelah pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka unggul sementara dari hasil penghitungan suara (quick count) Pemilu 2024.
Berdasarkan data perhitungan suara dari KPU pada Jumat (16/2/2024) pukul 14.00 di laman pemilu2024.kpu.go.id, perolehan suara Prabowo-Gibran adalah 57%, jauh di atas Anies-Cak Imin (24,98%), dan Ganjar-Mahfud (18.02%).
Ganjar-Mahfud bahkan disebut kalah di Jawa Tengah, daerah yang dipimpinnya selama 10 tahun terakhir. Betulkah Ganjar kalah akibat silent majority di Jawa Tengah lebih memilih Prabowo?
Baca Juga: Diperani Jefri Nichol, Mengapa Film Ali Topan Justru Menghapus Julukan Anak Jalanan dari Judulnya?
Direktur Eksekutif Indo Barometer Mohammad Qodari sempat membahas tentang silent majority ini dalam tayangan program Rosi di Kompas TV, Kamis (15/2/2024).
Qodari menyebut suara silent majority yang memenangkan Prabowo-Gibran itu adalah kelompok mayoritas yang tidak ingin dianggap tidak bermoral oleh kubu Ganjar-Mahfud MD.
Qodari menjelaskan, silent majority itu adalah kalangan menengah ke bawah yang mendukung Prabowo-Gibran.
“Orang-orang yang relatif tidak punya akses kepada media, mereka bukan guru besar yang kalau pakai baju toga lalu kemudian akan disorot oleh media, mereka nggak punya akses,” serunya.
The silent majority speech
Pernyataan Qodari ini menjadi menarik dan menjadi bahan renungan bagi sebagian orang. Apa sebenarnya yang dimaksud silent majority?
Baca Juga: Lowongan Kerja Senior Fullstack Developer di PT Aigen Global Teknologi
Sebagai sebuah istilah, silent majority pertama kali dipopulerkan oleh Presiden AS Richard Nixon dalam sebuah pidato yang disiarkan di televisi pada 3 November 1969.
Selama kampanye pada 1968, Nixon berjanji bahwa ia memiliki "rencana rahasia" untuk mengakhiri Perang Vietnam. Namun begitu menjabat, ia memutuskan untuk tidak menarik pasukannya dengan cepat.
Jadi, tidak ada rencana besar seperti yang dijanjikannya, membuat banyak orang Amerika frustrasi karena perang tidak kunjung berakhir.
Terjadi gelombang demonstrasi dari mereka yang kecewa dengan tindakan Nixon. Mereka membawa spanduk bertuliskan "Hentikan perang di Vietnam. Bawa pulang para prajurit."