PejuangKantoran.com - Kalau kamu punya empat akun media sosial (contohnya TikTok, Instagram, Facebook, dan Twitter), akun email, akun pencari kerja, akun e-commerce, akun mBanking, dan lain sebagainya, berapa banyak password yang harus kamu buat?
Kebanyakan orang akan memilih membuat satu password saja untuk semua jenis akun. Sebab, akan sulit membuat dan mengingat password sebanyak itu, kan?
Kebiasaan menyimpan password ini menjadi bahan survei Bitwarden, situs pengelola kata sandi. Bitwarden mensurvei 2.400 orang dari AS, Inggris, Australia, Prancis, Jerman, dan Jepang untuk menyelidiki praktik kata sandi pengguna.
Baca Juga: 4 Pertanyaan untuk Merespons Feedback Atasan saat Performance Reviews biar Nggak Bikin Demotivasi
Hasil survei Bitwarden menunjukkan, 25% responden di seluruh dunia menggunakan password yang sama untuk 11-20+ akun.
Sebanyak 36% responden mengaku menggunakan informasi pribadi dalam kredensial mereka yang dapat diakses secara publik di media sosial (60%), platform dan forum online (30%).
Fakta tersebut menunjukkan bahwa pengguna tidak mempraktikkan saran-saran keamanan yang sering direkomendasikan.
Hasil survei itu juga menyoroti betapa lemahnya kebiasaan menyimpan password pengguna, dan bahwa penggunaan password yang sama meningkatkan risiko keamanan siber dan pencurian identitas secara signifikan.
Kesenjangan antara kepercayaan dan perilaku keamanan siber
Survei Bitwarden menunjukkan ada kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kesadaran akan kebiasaan keamanan siber yang lebih baik di rumah dan di tempat kerja.
Sebanyak 60% pengguna mengaku merasa percaya diri dalam mengidentifikasi serangan phishing, dan 68% merasa siap untuk mengidentifikasi dan memitigasi serangan siber yang dilengkapi AI.
Baca Juga: Fakta May Day atau Hari Buruh: Sejarah Jam Kerja Delapan Jam Sehari Alias 9 to 5
Namun, banyak responden masih menggunakan metode pengelolaan kata sandi yang berisiko. Misalnya, 54% orang mengandalkan memori dan 33% membuat catatan untuk menyimpan password mereka di rumah.
Sebagai perbandingan, 41% mengatakan sangat sering atau agak sering mengakses data pribadi dan pekerjaan di jaringan publik, sehingga meningkatkan kerentanan mereka.
Sembilan belas persen pengguna global mengaku pernah kehilangan data karena kebiasaan mereka menyimpan password. Lalu 23% mengakui bahwa password mereka pernah dicuri atau disusupi di masa lalu.