news

3.200 Karyawan Unilever akan Diberhentikan Akhir 2025 Nanti, Area Mana yang Terdampak?

Selasa, 16 Juli 2024 | 08:54 WIB
Unilever berencana memberhentikan 3.200 karyawannya pada akhir 2025. (Unilever.com)

PejuangKantoran.com - Unilever memberhentikan 3.200 karyawan di seluruh Eropa pada akhir 2025 nanti. Langkah ini dilakukan untuk menyederhanakan operasional perusahaan dan mendorong pertumbuhan.

Perampingan karyawan di tingkat regional tersebut merupakan bagian dari rencana pengurangan 7.500 karyawan Unilever di seluruh dunia, sehingga akan mengurangi sekitar 6% tenaga kerja global mereka.

Perusahaan consumer goods itu sekarang ini mempekerjakan 128.000 karyawan di seluruh dunia, di mana 10.000 hingga 11.000 orang berbasis di Eropa.

Baca Juga: Garden By The Bay Jadi Destinasi Wisata Terbaik Nomor 8 di Dunia Versi Tripadvisor

Rencana Unilever memberhentikan 3.200 karyawan itu sudah mengemuka ketika perusahaan multinasional yang bermarkas di London tersebut memulai masa konsultasi dengan karyawannya.

“Kami sekarang, dalam beberapa minggu ke depan, memulai proses konsultasi dengan karyawan yang mungkin terkena dampak perubahan yang diusulkan,” kata juru bicara Unilever.

Lokasi pasti karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja belum diputuskan secara resmi, meskipun ada dugaan bahwa London dan Rotterdam akan terkena dampak paling parah.

Pemotongan ini merupakan bagian dari program yang diumumkan pada bulan Maret, yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas di Unilever.

Saat itu, pemilik berbagai merek rumah tangga mulai dari Pepsodent, Pond’s, dan Dove, serta Bango, Sariwangi, Magnum, hingga Vixal, ini mengumumkan rencana untuk melakukan perombakan besar-besaran pada perusahaannya.

Baca Juga: Gabriel Prince Rilis Single Baru dengan Lirik Bahasa Inggris, Video Klipnya Berdurasi 14 Menit!

Divisi es krim

Unilever menyatakan keinginannya untuk menjadi lebih produktif dan berkonsentrasi melakukan lebih sedikit hal dengan lebih baik.

Hal ini bertujuan untuk menghemat sekitar 800 juta euro (sekitar Rp14 triliun) selama tiga tahun ke depan.

CEO Hein Schumacher, yang diangkat tahun lalu, menghadapi tekanan dari pemegang saham untuk membangun kembali pangsa pasar menyusul hasil penjualan mereka yang mengecewakan.

Angka penjualan baru-baru ini membaik, meskipun Schumacher mengatakan pada bulan April bahwa transformasi perusahaan masih pada tahap awal.

Halaman:

Tags

Terkini