news

Sistem Windows Berangsur Pulih, namun Sistem Lain Mungkin Butuh Ditangani Lebih Lama

Sabtu, 20 Juli 2024 | 19:43 WIB
Ilustrasi: Usai pemadaman Microsoft, CrowdStrike menyatakan bahwa bahwa masalah tersebut telah diidentifikasi, diisolasi, dan diperbaiki. (Unsplash/Clint Patterson)

PejuangKantoran.com - Pada Jumat (19/7/2024) pagi, kekacauan besar-besaran di bidang IT telah memengaruhi hampir semua sektor secara global, termasuk penerbangan, transportasi umum, pasar saham dan bank, perusahaan, kesehatan, penyiaran media dan perhotelan.

Saat itu, sistem Windows di mana pun memunculkan layar biru pada komputer, fenomena yang disebut sebagai “Blue Screen of Death”.

Pakar keamanan siber menyebut insiden pemadaman Microsoft itu sebagai pemadaman IT terbesar dalam sejarah.

Hal itu rupanya dipicu oleh masalah pada CrowdStrike, perusahaan keamanan siber yang menyediakan software antivirus kepada Microsoft dan berbagai bisnis lain untuk perangkat Windows-nya.

Baca Juga: Penyebab Kegagalan Pembaruan Software Microsoft Windows yang Bikin Layar Biru pada Komputer

“Ini bukan insiden keamanan atau serangan siber,” kata CEO CrowdStrike George Kurtz dalam pernyataannya setelah terjadinya masalah global tersebut.

Menurutnya, suatu cacat telah ditemukan dalam pembaruan konten tunggal untuk host Windows yang kemudian dikaitkan dengan produk Falcon Sensor.

Masalah itu disebabkan oleh bug dalam satu pembaruan yang menyebabkan efek berjenjang.

Falcon sendiri adalah platform CrowdStrike yang dibuat khusus untuk menghentikan pelanggaran melalui serangkaian teknologi terpadu yang dihadirkan di cloud, yang mencegah semua jenis serangan termasuk malware.

Tidak memengaruhi proteksinya

Usai insiden pemadaman Microsoft, CrowdStrike mencatat bahwa masalah tersebut telah diidentifikasi, diisolasi, dan perbaikan telah diterapkan.

Baca Juga: Kedutaan Besar Denmark Buka Lowongan Kerja Visa and Consular Officer, Tanpa Batasan Usia!

“Kami merujuk pelanggan ke portal dukungan untuk pembaruan terkini dan akan terus memberikan pembaruan publik yang lengkap dan berkelanjutan di blog kami,” katanya.

Mereka juga menyatakan bahwa masalah tersebut tidak mempengaruhi sistem platform Falcon CrowdStrike, dan meyakinkan pengguna bahwa jika sistem mereka beroperasi secara normal, tidak ada dampak terhadap proteksi mereka jika sensor Falcon dipasang.

CEO Microsoft Satya Nadella mengakui masalah tersebut pada akun X-nya, dan mengatakan bahwa pihaknya secara aktif berkolaborasi dengan CrowdStrike dan mitra industri lainnya untuk memandu pelanggan melalui proses pemulihan dan memulihkan sistem mereka dengan aman.

Halaman:

Tags

Terkini