PejuangKantoran.com - Karena semakin banyak pekerja yang lebih sadar mengenai pentingnya kesehatan mental di tempat kerja, maka topik pembicaraan seputar hal ini juga lebih sering dilakukan.
Tak heran jika semakin banyak manajer yang memperbolehkan karyawannya untuk membicarakan masalah pribadi dengan mereka.
Namun, muncul pertanyaan baru: sejauh mana kamu boleh dekat dengan atasan sampai-sampai ia harus menjadi semacam terapis dadakan?
Baca Juga: Jack Ye Pendiri Dan Pemilik Miniso Terinspirasi Oleh Suvenir Di Jepang Yang Produksi China
Kedekatan dengan atasan
Berbagi cerita secara berlebihan, khususnya mengenai masalah kesehatan mental, bisa mengaburkan batas antara hubungan pribadi dan profesional.
Alison Ross, psikolog klinis berlisensi, mengatakan, "Manajer yang sangat mendukung, sangat peduli, dan sangat hangat terhadap karyawan, memiliki kualitas yang dimiliki terapis.”
Padahal, manajer bukan “teman” karyawan dan bukan juga psikolog mereka.
Dampak atasan pada kesehatan mental karyawan
Menurut para ahli, manajer yang terlalu banyak mengetahui problem kesehatan mental karyawan dapat menyebabkan kelelahan.
Baca Juga: Lowongan Pekerjaan: Senior Event Planning (Branding) di Oh Some
Untuk mengatasi hal tersebut, mereka harus berhati-hati menetapkan beberapa batasan profesional sambil tetap bersikap empati kepada staf, baik di dalam maupun di luar pekerjaan.
Pasalnya, atasan punya dampak besar pada kesehatan mental karyawan dan memiliki tanggung jawab yang semakin besar untuk membantu mereka.
Dalam sebuah survei, ditemukan bahwa lebih dari setengah pekerja mengatakan bahwa manajer berdampak pada kesehatan mental. Pekerja dari kelompok Gen Z menjadi yang paling mungkin mengatakan hal ini.
Meskipun, mereka juga menjadi kelompok yang merasa paling siap untuk melakukan pembicaraan mengenai hal itu dengan atasannya.