Abdul Mu’ti menyatakan bahwa tujuan dari Joyfull Learning adalah menciptakan pengalaman belajar yang bermakna, sehingga siswa tidak hanya merasa senang saja, tetapi juga benar-benar memahami materi yang dipelajari.
Contohnya, dalam pelajaran sejarah, guru bisa mengadakan simulasi atau diskusi yang membuat siswa lebih aktif terlibat. Dengan cara ini, siswa tidak hanya belajar sejarah sebagai hafalan, tetapi juga bisa memahami konteks historis secara lebih mendalam.
Joyfull Learning diharapkan dapat membuat siswa lebih bersemangat dalam mempelajari setiap mata pelajaran.
Baca Juga: Guru Ini Tidak Diterima Bekerja karena Bajunya Dianggap Berlebihan saat Wawancara Kerja
Peran penting dan mendasar dari guru
Kurikulum Deep Learning ini, menurut Abdul Mu’ti tak sekadar ganti nama. Mu’ti menegaskan bahwa penggantian kurikulum ini adalah langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
“Pendekatannya adalah mengurangi volume materi namun dengan eksplorasi mendalam,” papar Mu’ti.
Abdul Mu'ti berharap, Deep Learning nantinya dapat menjadi solusi dan tidak perlu dinamai sebagai Kurikulum Merdeka.
Namun demikian, Mendikdasmen mengaku belum bisa melakukan pergantian kurikulum dalam waktu dekat. Sebab saat ini lembaga sekolah masih berada di pertengahan tahun ajaran.
"Tidak mungkin kita melakukan perubahan kurikulum di tengah tahun ajaran," ujarnya dikutip dari TVR Parlemen pada Rabu, 6 November 2024.
Kurikulum Deeplearning direncanakan untuk diterapkan pada tahun 2025. Perlu persiapan yang matang untuk penerapannya, terutama dalam hal pelatihan guru dan penyediaan infrastruktur yang memadai.
Proses transisi menuju kurikulum baru ini juga akan melibatkan pelatihan intensif bagi para guru agar mereka dapat mengadopsi metode pengajaran yang lebih berfokus pada siswa.
Yang juga mendasar dan penting adalah perubahan mindset guru. Guru dalam Kurikulum Deep Learning ini menjadi elemen penting dalam keberhasilan pelaksanaannya.
Guru dituntut untuk lebih fleksibel dan responsif terhadap kebutuhan siswa. Abdul Mu’ti menekankan bahwa keberhasilan kurikulum ini sangat bergantung pada kesediaan para pendidik untuk beradaptasi dengan pendekatan yang lebih mengutamakan keterlibatan aktif siswa.
Nah, bagi yang berprofesi guru, mesti siap, ya!