PejuangKantoran.com - Survei kepuasan karyawan sudah lama menjadi metode andalan HR untuk mengukur tingkat kepuasan dan keterlibatan pekerja di perusahaan.
Namun, menurut laporan terbaru dari perusahaan analisis HR berbasis AI, Visier, alat ini mungkin tidak memberikan gambaran yang sebenarnya.
Dalam survei yang dilakukan pada Oktober 2024 terhadap 1.000 karyawan di AS, ditemukan bahwa 47% responden sering atau kadang-kadang merasa tertekan untuk memberikan feedback yang sebenarnya.
Baca Juga: 5 Strategi Jika Kamu Diminta Pindah Tugas tetapi Tidak Menerima Tunjangan Mutasi dari Perusahaan
Sementara itu, 6% lainnya mengaku jarang atau bahkan tidak pernah menjawab dengan jujur.
Masalah utamanya? Kurangnya kepercayaan terhadap sistem manajemen data perusahaan. Sebanyak 37% karyawan mengaku tidak yakin bahwa survei kepuasan karyawan ini benar-benar anonim.
Bukan hanya itu, ada juga kesenjangan persepsi antara karyawan dan manajer. Sekitar 44% karyawan percaya bahwa manajer mereka akan menilai kondisi emosional mereka secara berbeda dari yang mereka rasakan.
Kemudian 21% lainnya berpendapat bahwa manajer mereka cenderung melebih-lebihkan kepuasan mereka.
Dampak dari ketidakjujuran dalam survei
Menurut Sarah Gonzales, Senior Director of Content, Creative, and Design di Visier, jika hasil survei tidak mencerminkan kondisi sebenarnya, maka inisiatif yang dibuat berdasarkan survei tersebut tidak akan efektif dalam meningkatkan keterlibatan, produktivitas, dan motivasi karyawan.
“Ketika data yang kita gunakan tidak akurat, keputusan yang diambil pun bisa melenceng,” ujar Gonzales dalam blognya.
Baca Juga: Gelar Bukan Satu-satunya Persyaratan, Banyak Rekruter yang Kini Fokus ke Keterampilan Kandidat
Ia menyoroti bahwa tiga topik di mana karyawan paling sulit menjawab dengan jujur adalah kepuasan kerja secara keseluruhan (36%), kinerja kepemimpinan (33%), dan hubungan dengan manajer (30%).
Padahal, ketiga hal ini sangat memengaruhi strategi dan program yang dirancang perusahaan. Lebih parahnya lagi, tren ketidakjujuran ini semakin meningkat, terutama di kalangan pekerja muda.
Sebanyak 26% milenial dan 24% Gen Z mengaku sering merasa tertekan untuk memberikan pendapat mereka, sementara pada generasi X, angka ini hanya mencapai 15%.
Kesenjangan antara manajemen dan karyawan