news

Hati-Hati, Survei Bilang Makin Sering Memakai Mode Suara ChatGPT Kamu Makin Merasa Kesepian 

Jumat, 28 Maret 2025 | 13:16 WIB
Ilustrasi: Semakin sering berinteraksi dengan mode suara ChatGPT, pengguna semakin mungkin merasa kesepian. (Freepik)

PejuangKantoran.com - Berbagai tools AI yang terus berkembang saat ini semakin mempermudah pekerjaan manusia, salah satunya ChatGPT.

Namun, penelitian terbaru mengungkap bahwa pengguna ChatGPT yang aktif cenderung lebih rentan terhadap kesepian dan memiliki ketergantungan emosional yang lebih tinggi pada teknologi tersebut.

Ini menjadi informasi penting mengenai dampak chatbot terhadap kehidupan sosial, terutama dalam kaitannya dengan interaksi manusia di dunia nyata.

Baca Juga: Mengasah Keterampikan Analisis Bisa Dilakukan dengan Bermain Brain Games. Berikut Daftar Games-nya!

Studi dari OpenAI dan MIT Media Lab memang menunjukkan hanya sebagian kecil pengguna yang terlibat secara emosional dengan ChatGPT.

Meski begitu, hasilnya menunjukkan bahwa mereka yang sering berinteraksi dengan chatbot dalam konteks emosional cenderung mengalami tingkat kesepian yang lebih tinggi.

Memang belum dapat dipastikan apakah chatbot-lah yang memicu kesepian atau justru individu yang sudah merasa kesepian lebih cenderung berinteraksi dengan AI.

AI bisa membuat kesepian dan ketergantungan

Penelitian menunjukkan bahwa mode suara ChatGPT pada awalnya dirancang untuk "menemani" pengguna yang merasa kesepian.

Namun, efek tersebut akan berkurang seiring dengan meningkatnya frekuensi penggunaan.
Hal ini terlihat pada pengguna yang menghabiskan banyak waktu dengan ChatGPT, terutama mereka yang masuk dalam 10% teratas dalam hal durasi penggunaan.

Baca Juga: Beban Kerja Meningkat, Pemimpin Tak Punya Waktu Menanggapi Feedback dari Karyawan. Ini Dampaknya!

Disebutkan, mereka cenderung merasa kesepian dan semakin bergantung pada chatbot.

Selain itu, setelah menggunakan chatbot selama empat minggu, peserta perempuan cenderung memiliki frekuensi bersosialisasi yang lebih rendah dibandingkan laki-laki.

Menariknya, peserta yang berinteraksi dengan mode suara ChatGPT dengan lawan bicara berjenis kelamin berbeda, justru makin merasa kesepian dan ketergantungan terhadap chatbot di akhir penelitian.

“Emosi” AI tergantung penggunanya

Halaman:

Tags

Terkini