news

Penggunaan AI Chatbot di Kantor Ternyata Belum Memberi Dampak untuk Gaji yang Lebih Besar

Rabu, 21 Mei 2025 | 22:01 WIB
Ilustrasi: Penggunaan AI di tempat kerja ternyata belum memberi dampak seheboh yang digembar-gemborkan. (Freepik)

PejuangKantoran.com - Penggunaan AI di tempat kerja seperti ChatGPT atau Gemini katanya sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Di kantor-kantor, kabarnya AI sudah banyak dipakai, dari divisi HR sampai marketing.

Tetapi, menurut riset terbaru dari National Bureau of Economic Research, dampak AI ternyata nggak seheboh yang sering kita dengar. Artinya, belum ada perubahan besar soal gaji atau jam kerja.

Peneliti Anders Humlum, dosen ekonomi di University of Chicago, dan Emilie Vestergaard, mahasiswa PhD dari University of Copenhagen, mengamati lebih dari 25.000 karyawan di 7.000 tempat kerja di Denmark.

Baca Juga: Kembali Digelar Kementerian Ketenagakerjaan, Job Fair 2025 Buka 28.000 Lowongan Pekerjaan

Negara ini dipilih karena sistem pencatatan data tenaga kerjanya sangat detail, dan mirip dengan kondisi pasar kerja di AS.

Hasil penelitian mereka menunjukkan, secara rata-rata penggunaan AI di tempat kerja hanya menghemat waktu karyawan sebesar 3%. Dari efisiensi itu, cuma 3–7% yang kembali ke karyawan dalam bentuk kenaikan gaji. Artinya?

AI memang membantu pekerjaan jadi sedikit lebih cepat, tapi belum bikin penggunanya dapat gaji lebih tinggi.

"Chatbots AI belum menunjukkan dampak besar terhadap pendapatan atau jam kerja di profesi manapun," kata Humlum.

Mereka juga tidak menemukan adanya gelombang PHK massal akibat AI. Di sisi lain, belum ada lompatan besar dalam produktivitas yang bisa bikin karyawan jadi “superworker” yang digaji mahal.

Tanpa bimbingan perusahaan

Baca Juga: Jauh dari Sorotan Publik, Ini Sumbangsih Suami Najwa Shihab Di Dunia Hukum Indonesia

Menurut Humlum, sebagian besar studi sebelumnya fokus ke profesi yang memang paling terdampak AI, seperti software engineer, penulis konten, atau HR yang bikin job post.

Tetapi begitu dilihat lebih luas, efeknya nggak terlalu besar. Bahkan, sebagian besar waktu yang dihemat dari bantuan AI dipakai untuk pekerjaan lain, bukan buat istirahat.

“Saya sendiri jadi pakai waktu lebih untuk menyusun ulang soal ujian, biar mahasiswa nggak bisa nyontek pakai AI,” tukas Humlum.

Ternyata, banyak karyawan yang pakai AI tanpa bimbingan jelas dari perusahaan. Ada yang nggak tahu apakah boleh pakai, atau bahkan nggak pernah dilatih cara memakainya.

Halaman:

Tags

Terkini