Uji terbang kedua pesawat prototipe ini dilakukan antara tahun 2000 – 2001. Dari hasil uji terbang kedua prototipe tersebut, X-35 milik Lockheed Martin yang menang dan proyek F-35 resmi dimulai.
Alasan X-35 milik Lockheed Martin yang menang karena performa superior, terutama dalam lepas landas pendek dan pendaratan vertikal. Desain X-35 juga dianggap lebih fleksibel untuk dikembangkan ke 3 varian yang dibutuhkan. X-35 juga dianggap lebih efisien dalam pemisahan misi (multiperan) dengan lebih baik.
Pada tahun 2006, pesawat ini resmi dinamakan F-35 Lightning II. Nama ini dipilih sebagai penghormatan terhadap P-38 Lightning dari Perang Dunia II.
Baca Juga: Konflik Berkepanjangan di Palestina Rugikan Lebih dari 200.000 Pekerja Lokal dan Migran
Proyek F-35 adalah program militer termahal dalam sejarah, dengan biaya pengembangan dan produksi melebihi $1,7 triliun USD (estimasi seumur hidup).
F-35 ini akhirnya menjadi program multinasional dan dipandang sebagai tulang punggung kekuatan udara NATO dan sekutu AS di masa depan.
Negara-negara sekutu AS yang ikut terlibat dalam produksi dan pembelian ini antara lain Inggris, Italia, Belanda, Australia, Jepang, Korea Selatan, Norwegia, Israel.
Saat ini, F-35 Lightning II tak sekadar pesawat tempur, namun juga platform pertempuran digital yang terintegrasi. Pesawat ini meggabungkan stealth, sensor canggih, manajemen pertempuran, dan komunikasi jaringan yang real-time.
Di atas kertas, bisa dibilang F-35 mendominasi udara, pengintaian, dan serangan yang presisi dalam satu paket. Jadi, apabila klaim Iran itu benar, perhitungan di atas kertas ini jadi punya kelemahan yang berhasil diketahui Iran. ***