PejuangKantoran.com - Keputusan Standard Chartered melakukan perampingan karyawan untuk digantikan dengan AI ternyata berbuntut panjang. Bukan karena Stanchart tidak membayarkan pesangon, melainkan karena kata-kata CEO Bill Winters yang dinilai menyakiti karyawan.
Seperti diberitakan sebelumnya, 18 Mei lalu Standard Chartered mengumumkan akan memangkas sekitar 7.800 karyawan atau lebih dari 15% staf administrasi (back-office) mereka hingga tahun 2030 nanti.
Bank asal Inggris itu menjelaskan alasan perampingan karyawan itu dipicu oleh fakta bahwa teknologi AI semakin banyak dipakai untuk mempercepat pelayanan dan membuat operasional internal jadi jauh lebih efisien.
Baca Juga: Standard Chartered akan Memangkas Ribuan Karyawan Seiring Meningkatnya Penggunaan AI
Yang jadi masalah, cara Bill Winters menyampaikan pengumuman itu dianggap melukai hati karyawan. Akibatnya, pernyataan Winters menuai protes keras.
CEO Standard Chartered yang sudah menjabat sejak Juni 2015 itu mengatakan, "(AI) is replacing, in some cases, lower value human capital with the financial capital and the investment capital we’re putting in."
Yang artinya kurang lebih, "AI, dalam beberapa kasus, menggantikan modal manusia yang bernilai lebih rendah, dengan modal finansial dan modal investasi yang kita tanamkan."
Bill Winters meminta maaf
Pernyataan ini dia sampaikan saat sesi pengarahan investor di Hong Kong. Melabeli karyawan sebagai orang yang "kurang bernilai" di tengah revolusi teknologi jelas memicu kemarahan publik.
Meskipun Winters sempat menambahkan bahwa perusahaan memberikan kesempatan bagi staf untuk pindah posisi atau belajar keterampilan baru (reskilling), kata-kata "bernilai rendah" telanjur melukai banyak pihak.
Kritik pun berdatangan dari berbagai sisi. Banyak orang merasa istilah tersebut sangat tidak pantas disampaikan oleh seorang pemimpin. Winters kemudian mengirim memo kepada para karyawan untuk mengklarifikasi.
“Banyak dari kalian mungkin sudah melihat pemberitaan di media setelah acara investor di Hong Kong, terutama mengenai otomasi, AI, dan perubahan tenaga kerja.
"Saya tahu hal ini mungkin terasa meresahkan jika hanya dilihat dari judul berita yang singkat atau kutipan yang terlepas dari konteks aslinya,” tukasnya.
Namun, klarifikasi tersebut juga tidak luput dari kritikan pengguna media sosial.
Artikel Terkait
Pilates Tak Lagi Sekadar Soal Postur Tubuh, Studi Baru Ungkap Manfaat untuk Kesehatan Otak
Tak Cuma Dada Ayam, Ini Deretan Makanan dengan Protein Lebih Tinggi
Perubahan Kapasitas Kerja Bisa Mengungkap Risiko Cuti Sakit Sejak Dini di Tempat Kerja
6 Kejanggalan dari Pemalsuan Riset yang Diduga Dilakukan Peneliti Indonesia di Konferensi Internasional
Ditampar Baim Wong saat Syuting 'Suamiku Lukaku', Acha Septriasa Alami Pecah Pembuluh Darah
Dutch Business Network Indonesia Buka Lowongan Kerja Operations & Communications Coordinator
3 Gaya Kepemimpinan Modern yang Bisa Disimpulkan dari Tokoh-tokoh The Devil Wears Prada 2