6 Kejanggalan dari Pemalsuan Riset yang Diduga Dilakukan Peneliti Indonesia di Konferensi Internasional

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Rabu, 27 Mei 2026 | 21:47 WIB
Dua judul penelitian berbeda dengan kesimpulan yang sama ini termasuk yang disebutkan sebagai dugaan pemalsuan riset yang melibatkan nama Prihantini. (Instagram @kualimerahputih)
Dua judul penelitian berbeda dengan kesimpulan yang sama ini termasuk yang disebutkan sebagai dugaan pemalsuan riset yang melibatkan nama Prihantini. (Instagram @kualimerahputih)

PejuangKantoran.com - Media sosial di Instagram dan Thread sejak Senin (25/52026) lalu diramaikan dengan berita kelompok peneliti Indonesia yang diduga melakukan pemalsuan riset di sejumlah konferensi ilmiah internasional.

Aksi tidak terpuji itu dibongkar oleh Ida Bagus Mandhara Brasika dan Wa Ode Dwi Daningrat. Keduanya dosen serta peneliti yang mengikuti International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD 2026) pada 17-21 Mei 2026 di Kopenhagen, Denmark.

Ada tiga peneliti gadungan yang terlibat dalam kasus pemalsuan tersebut, yaitu Rifaldy Fajar, Prihantini, dan Rini Winarti. Mereka diduga melakukan pemalsuan riset untuk mendapatkan travel grant untuk mengikuti konferensi internasional secara gratis atas biaya penyelenggara.

Baca Juga: Perubahan Kapasitas Kerja Bisa Mengungkap Risiko Cuti Sakit Sejak Dini di Tempat Kerja

Mandhara Brasika tak dapat menyembunyikan kegeramannya saat mengungkap beberapa kejanggalan yang ditemukannya saat menelusuri keterlibatan Rifaldy dan Prihantini. Berikut hasil temuannya:

Riset dibuat dengan AI

Prihantini mengirimkan beberapa hasil penelitian, salah satunya berjudul Multi-Strain Machine Learning Identifies Transcriptomic Combination Vulnerabilities in Multidrug-Resistant Streptococcus Pneumoniae, yang disusunnya bersama Rifaldy Fajar dan Rini Winarti.

Artikel tersebut ternyata dibuat dengan AI dan/atau fabrikasi data. Risetnya menggunakan data yang di-generate dari AI, begitu pula dengan gambar dan tulisannya yang dibuat untuk poster. Kelihatannya meyakinkan, tapi risetnya sendiri tidak pernah ada.

Nama institusi tidak ditemukan

Saat melakukan riset, peneliti harus menyebutkan afiliasi (nama institusi atau universitas tempat peneliti melakukan riset). Afiliasi yang disebutkan Prihantini dalam artikelnya, yaitu AI-BioMedicine Research Group dan IMCDS-BioMed Research Foundation Jakarta, ternyata tidak dapat ditemukan.

Baca Juga: Imbal Hasil ST016 Berpotensi Ikut Naik Jadi 6,55% dan 6,75% usai BI Naikkan Suku Bunga Acuan

Tidak ada kolaborator lokal sesuai lokasi riset

Lokasi penelitian yang diklaim oleh Prihantini terdiri atas belasan negara, yaitu Pegunungan Andes Peru, dataran tinggi Guatemala, Lebanon, Yordania, Bangladesh, Sudan Selatan, Filipina, Kenya, Nepal, Malawi, India Utara, hingga Ethiopia.

“Tapi, perisetnya semua Indonesia, tanpa kolaborator setempat, tanpa keterangan persetujuan etik,” tukas Mandhara tentang pemalsuan riset itu.

Dalam penelitian berskala internasional, hal itu boleh dibilang tidak mungkin dilakukan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Inilah, Detik, Instagram @mandharabrasika

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X