PejuangKantoran.com - Media sosial di Instagram dan Thread sejak Senin (25/52026) lalu diramaikan dengan berita kelompok peneliti Indonesia yang diduga melakukan pemalsuan riset di sejumlah konferensi ilmiah internasional.
Aksi tidak terpuji itu dibongkar oleh Ida Bagus Mandhara Brasika dan Wa Ode Dwi Daningrat. Keduanya dosen serta peneliti yang mengikuti International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD 2026) pada 17-21 Mei 2026 di Kopenhagen, Denmark.
Ada tiga peneliti gadungan yang terlibat dalam kasus pemalsuan tersebut, yaitu Rifaldy Fajar, Prihantini, dan Rini Winarti. Mereka diduga melakukan pemalsuan riset untuk mendapatkan travel grant untuk mengikuti konferensi internasional secara gratis atas biaya penyelenggara.
Baca Juga: Perubahan Kapasitas Kerja Bisa Mengungkap Risiko Cuti Sakit Sejak Dini di Tempat Kerja
Mandhara Brasika tak dapat menyembunyikan kegeramannya saat mengungkap beberapa kejanggalan yang ditemukannya saat menelusuri keterlibatan Rifaldy dan Prihantini. Berikut hasil temuannya:
Riset dibuat dengan AI
Prihantini mengirimkan beberapa hasil penelitian, salah satunya berjudul Multi-Strain Machine Learning Identifies Transcriptomic Combination Vulnerabilities in Multidrug-Resistant Streptococcus Pneumoniae, yang disusunnya bersama Rifaldy Fajar dan Rini Winarti.
Artikel tersebut ternyata dibuat dengan AI dan/atau fabrikasi data. Risetnya menggunakan data yang di-generate dari AI, begitu pula dengan gambar dan tulisannya yang dibuat untuk poster. Kelihatannya meyakinkan, tapi risetnya sendiri tidak pernah ada.
Nama institusi tidak ditemukan
Saat melakukan riset, peneliti harus menyebutkan afiliasi (nama institusi atau universitas tempat peneliti melakukan riset). Afiliasi yang disebutkan Prihantini dalam artikelnya, yaitu AI-BioMedicine Research Group dan IMCDS-BioMed Research Foundation Jakarta, ternyata tidak dapat ditemukan.
Baca Juga: Imbal Hasil ST016 Berpotensi Ikut Naik Jadi 6,55% dan 6,75% usai BI Naikkan Suku Bunga Acuan
Tidak ada kolaborator lokal sesuai lokasi riset
Lokasi penelitian yang diklaim oleh Prihantini terdiri atas belasan negara, yaitu Pegunungan Andes Peru, dataran tinggi Guatemala, Lebanon, Yordania, Bangladesh, Sudan Selatan, Filipina, Kenya, Nepal, Malawi, India Utara, hingga Ethiopia.
“Tapi, perisetnya semua Indonesia, tanpa kolaborator setempat, tanpa keterangan persetujuan etik,” tukas Mandhara tentang pemalsuan riset itu.
Dalam penelitian berskala internasional, hal itu boleh dibilang tidak mungkin dilakukan.
Artikel Terkait
Benci Pekerjaan Sendiri Bisa Berdampak Buruk untuk Tubuh, Ini Penjelasannya
Waspadai Tanda-Tanda Toxic Workplace Sejak Hari Pertama Kerja
Waspada, Penipu Kini Mengandalkan AI untuk Membuat Penipuan Lowongan Kerja Makin Meyakinkan
Foto dan Suara Sandiaga Uno Dicatut untuk Menipu, Kenali Cara Kerja Penipuan Berbasis AI!
Haico Van Der Veken Berakting sebagai Kembar di Series Bercinta dengan Maut (The Other Sister)
Tak Cuma Dada Ayam, Ini Deretan Makanan dengan Protein Lebih Tinggi
10 Sinyal Tubuh yang Pantang Diabaikan Saat Lari