Penjualan Turun Drastis, Jaringan Toko Ritel Galeries Lafayette Menutup Tokonya di Beijing

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Kamis, 28 Mei 2026 | 21:43 WIB
Format toko Galeries Lafayette yang lebih kecil dianggap jauh lebih pas dengan perilaku belanja konsumen modern. (Experience First)
Format toko Galeries Lafayette yang lebih kecil dianggap jauh lebih pas dengan perilaku belanja konsumen modern. (Experience First)

PejuangKantoran.com - Dunia ritel barang mewah sedang mengalami masa-masa sulit. Satu per satu department store terkemuka menutup outlet-nya. Dan, hal ini nggak cuma terjadi di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia.

Salah satu yang terbaru saat ini terjadi pada Galeries Lafayette, yang menutup toko mereka di Beijing, China, Rabu (27/5/2026). Penutupan ini terjadi setelah 13 tahun mereka hadir di kota tersebut.

Namun, bukan berarti Galeries Lafayette benar-benar menghilang dari China. CEO Arthur Lemoine dan Wakil CEO Alexandre Liot menegaskan bahwa operasional mereka di Shanghai dan Shenzhen tetap berjalan seperti biasa.

Baca Juga: 3 Gaya Kepemimpinan Modern yang Bisa Disimpulkan dari Tokoh-tokoh The Devil Wears Prada 2

"Kita sering menganggap bahwa tempat-tempat yang akrab bagi kita akan selalu ada di sana, namun kita lupa bahwa perjumpaan seringkali hanya sementara, dan momen untuk mengucapkan selamat tinggal bisa datang begitu saja," tulis Galeries Lafayette dalam unggahan WeChat mereka.

Mereka juga menambahkan, "Jangan sedih, ini bukan perpisahan selamanya. Pohon akan tumbuh, musim akan berganti, dan kehidupan akan terus berkembang. Kami menantikan reuni yang lebih baik dengan Anda.".

Format yang lebih ramping

Ternyata, penutupan di Beijing ini bukan satu-satunya yang terjadi di dunia. Selama setahun terakhir, Galeries Lafayette sudah menutup beberapa toko di negara lain, dari Makau pada Februari 2026, dua toko di Marseille pada November 2025, hingga toko di Rosny-sous-Bois dan Chongqing.

Seperti banyak peritel mewah lainnya, Galeries Lafayette sedang berhadapan dengan ekonomi global yang susah ditebak. Konsumen saat ini lebih berhati-hati dalam berbelanja, ditambah lagi dengan inflasi yang terus membayangi.

Di China sendiri, kontribusi penjualan mereka turun drastis, dari yang dulunya menyumbang 33% dari total penjualan global, kini turun menjadi sekitar 22%.

Baca Juga: Dutch Business Network Indonesia Buka Lowongan Kerja Operations & Communications Coordinator

Tren ini sebenarnya tidak hanya menimpa Galeries Lafayette. Perusahaan raksasa lain seperti Saks Global dan Macy's juga melakukan langkah serupa: mengurangi jumlah toko besar dan beralih ke format yang lebih ramping.

Menurut laporan McKinsey & Company, industri mode dunia memang sedang menghadapi tantangan besar. Banyak eksekutif industri merasa kondisi pasar akan semakin sulit di tahun 2026 ini.

Alasan utama penutupan toko ritel ini adalah efisiensi. Toko Galeries Lafayette di Beijing yang ditutup itu sangat besar, luasnya sekitar 30.000 meter persegi. Sementara toko mereka di Shanghai dan Shenzhen jauh lebih kecil, yakni 10.000 dan 3.500 meter persegi.

Format toko yang lebih kecil ini dianggap jauh lebih pas dengan perilaku belanja konsumen modern yang lebih mementingkan kenyamanan dan pengalaman personal.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: The Street

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X