3. Pariwisata Naik Kelas
Fokus pada pengembangan wisata minat khusus seperti kuliner (gastro tourism), bahari (marine tourism), dan kebugaran (wellness tourism), serta penguatan event lokal berbasis budaya.
4. Karisma Event Nusantara (KEN)
Program ini mendorong pertumbuhan ekonomi lewat penyelenggaraan event budaya dan pariwisata. Pada 2024, KEN mencatat dampak ekonomi mencapai Rp13,57 triliun, dengan kontribusi terhadap PDB nasional sebesar Rp238,2 miliar.
Baca Juga: Berat Badan Turun-Naik Itu Normal, tapi Pastikan Kamu Menimbang Badan di Waktu yang Tepat!
5. Pengembangan Desa Wisata
Kementerian menargetkan peningkatan mutu dan jumlah lebih dari 6.000 desa wisata di seluruh Indonesia. Beberapa desa seperti Penglipuran dan Jatiluwih di Bali telah berhasil menunjukkan potensi ekonomi besar dari model ini.
Desa Penglipuran, yang dikenal sebagai salah satu destinasi terbersih di dunia, mencatat pendapatan hingga Rp24 miliar per tahun. “Jika desa-desa mampu mengelola potensi mereka dengan baik, maka pembangunan merata bisa benar-benar terjadi,” kata Ni Luh Puspa.
Dari sisi statistik, sektor pariwisata menunjukkan pemulihan yang signifikan. Jumlah wisatawan mancanegara meningkat dari 1,6 juta pada 2021 menjadi hampir 14 juta pada 2024.
Sementara itu, perjalanan wisatawan domestik mencapai lebih dari 1 miliar, melampaui angka sebelum pandemi.
Tahun ini, pemerintah menargetkan 14,6–16 juta kunjungan wisatawan mancanegara dan 1,08 miliar perjalanan wisatawan nusantara. Devisa dari sektor ini ditargetkan mencapai USD 19–22,1 miliar, serta kontribusi terhadap PDB nasional sebesar 4,6 persen atau setara Rp1.118,6 triliun.
Namun, Ni Luh Puspa menegaskan bahwa pencapaian target-target ini tidak bisa dicapai sendiri. Diperlukan sinergi lintas sektor, termasuk kontribusi dari dunia pendidikan sebagai bagian dari pariwisata.
Baca Juga: Tinder Luncurkan Fitur Double Date buat Pengguna yang Mau Ajak Bestie untuk Ketemu Pasangan Match
Peran Akademisi dan Generasi Muda
Ia mengajak mahasiswa dan akademisi untuk menjadi motor penggerak transformasi pariwisata, bukan hanya sebagai pengamat.
“Perubahan harus dimulai dari kampus, dari para pemuda yang menjadi calon pemimpin masa depan. Jadilah inovator, penjaga nilai, dan penggerak kolaborasi,” tegasnya.
Menurutnya, keberhasilan pariwisata Bali dan Indonesia secara umum tidak ditentukan oleh banyaknya jumlah wisatawan semata, tetapi oleh seberapa besar manfaat yang bisa diberikan kepada masyarakat, budaya, dan alam.
“Pariwisata yang berkualitas bukan hanya soal pelayanan prima, tapi juga tentang keberlanjutan, pemberdayaan masyarakat, dan pelestarian budaya. Ini adalah tanggung jawab bersama,” pungkasnya.