Meskipun masih memimpin dari segi jumlah pengguna dan punya keuntungan karena banyak perusahaan sudah menggunakan sistem mereka sejak lama, tetap saja Microsoft tidak bisa berleha-leha.
Menurut Tom Keuten, seorang eksekutif di perusahaan konsultan teknologi Rightpoint, jika perusahaan teknologi tersebut tidak bergerak cepat, pelanggan bisa saja rela membayar mahal untuk pindah platform.
AI bukan sekadar tambahan, harus terintegrasi
Simon Townsend dari perusahaan ControlUp menambahkan bahwa kekuatan utama AI ada pada kemampuannya memahami konteks data dalam organisasi.
Karena itu, AI tidak cukup hanya jadi alat tambahan. AI harus benar-benar terhubung dengan komunikasi, data, dan proses kerja yang sudah ada.
Jika tidak, maka manfaatnya tidak akan terasa.
Namun, meski fitur AI makin canggih, Townsend mengatakan bahwa itu belum cukup untuk membuat banyak perusahaan pindah dari Microsoft ke Google atau sebaliknya.
Sebagian besar perusahaan sudah punya sistem dan kebiasaan masing-masing. Jika tidak ada perbedaan besar dalam kemampuan AI, mereka cenderung bertahan dengan platform yang sudah dipakai.
Selain itu, kepatuhan dan keamanan data juga jadi pertimbangan penting. Perusahaan harus tahu data apa yang diproses AI, bagaimana data itu digunakan, dan siapa saja yang bisa mengaksesnya.
Baca Juga: 15 Penghargaan FinanceAsia Award 2025 untuk BRI Buktikan Fundamental Bisnis yang Tangguh
Ini penting untuk menjaga kepercayaan dan menghindari risiko.
Townsend menilai tren AI ini bukanlah revolusi besar, melainkan kelanjutan alami dari perkembangan alat produktivitas.
AI tidak akan menggantikan kebutuhan dasar seperti menulis dokumen atau membuat presentasi. Justru, AI akan membantu pekerjaan manusia jadi lebih cepat dan efisien.
Satu hal yang pasti: persaingan ini menguntungkan pengguna.
Karena dengan dua raksasa teknologi saling dorong-dorongan, pengguna lah yang akan terus mendapat pengalaman kerja yang lebih cerdas dan efisien.