PejuangKantoran.com - AI generatif sedang jadi bahan pembicaraan di banyak perusahaan. Banyak di antara kita yang juga hampir selalu melibatkan AI dalam proses kerja sehari-hari.
Namun, menurut laporan terbaru dari MIT (Massachusetts Institute of Technology), sebagian besar upaya penerapan AI di perusahaan belum membuahkan hasil nyata.
Dalam laporan berjudul "The GenAI Divide: State of AI in Business 2025" yang diterbitkan oleh proyek NANDA di MIT disebutkan, hanya sekitar 5% proyek uji coba (pilot project) AI generatif yang menghasilkan pertumbuhan pendapatan secara cepat.
Baca Juga: Belanja bakal Makin Mudah! Mulai 17 Agustus 2025 QRIS Sudah Bisa Dipakai di Jepang!
Artinya, 95% sisanya stagnan dan hampir tidak memberikan dampak terhadap profit perusahaan.
Penelitian ini cukup komprehensif, karena melibatkan 150 wawancara dengan pimpinan perusahaan, survei terhadap 350 karyawan, dan analisis terhadap 300 implementasi AI publik.
Hasilnya menunjukkan kesenjangan antara sedikit cerita sukses dan mayoritas proyek yang mandek di tengah jalan.
Untuk memahami lebih jauh temuan tersebut, penulis laporan tersebut, Aditya Challapally, memberikan wawasan menarik tentang mengapa banyak penerapan AI di perusahaan yang mengalami kegagalan.
“Beberapa perusahaan besar dan startup muda memang berhasil dengan AI generatif,” ujar Aditya. Ia memberi contoh startup yang dipimpin oleh anak muda usia 19–20 tahun yang pendapatannya bisa naik dari nol ke 20 juta dollar hanya dalam satu tahun.
“Mereka fokus pada satu masalah spesifik, eksekusinya rapi, dan mereka pintar memilih mitra,” tambahnya.
Baca Juga: Siapa AKP Bimo Dwi Lambang, Mantan Ajudan Sandiaga Uno yang Jadi Komandan Paskibraka 2025?
Sebaliknya, sebagian besar proyek AI di perusahaan besar berhenti di fase uji coba. Yang menarik, masalah utamanya bukan pada kualitas teknologi AI itu sendiri, melainkan pada cara perusahaan mengadopsinya.
Banyak pimpinan perusahaan menyalahkan regulasi atau performa model, padahal riset MIT menunjukkan bahwa yang gagal adalah integrasi AI ke workflow dan budaya kerja.
“ChatGPT dan tools umum bekerja baik untuk individu karena fleksibel. Tapi untuk perusahaan, tools ini tidak otomatis bisa belajar dari sistem internal atau jalur kerja karyawan,” ujar Aditya.
Budget-nya salah sasaran