Pernyataan berbeda datang dari pihak kampus.
Kepala Unit Keamanan Kampus Unpas, Rosyid, mengatakan peristiwa itu terjadi sekitar pukul 23.30 WIB. Saat itu memang ada blokade di jalan Tamansari, tetapi sebagian besar dilakukan dengan membakar ranting kayu.
Ketika aparat datang dari arah Wastukencana, massa mundur ke dalam area Unpas. Pihak kampus kemudian membuka pagar untuk mengevakuasi mahasiswa dan massa lain yang berlarian.
Menurut Rosyid, justru setelah itu aparat menembakkan gas air mata ke dalam Unpas. Ia menyebut jumlah tembakan mencapai puluhan kali.
“Ada 48 tembakan, saya hitung,” kata Rosyid.
Ia bersama petugas keamanan kampus bahkan menyimpan sisa proyektil gas air mata yang ditemukan di dalam area Unpas.
Foto-foto proyektil itu juga beredar di media sosial, jumlahnya antara 20 hingga 60 buah.
Akibat tembakan gas air mata tersebut, belasan orang di dalam kampus terdampak. Rosyid mengatakan, ada 12 orang yang pingsan karena sesak napas.
Ia menegaskan tidak ada provokasi berarti dari mahasiswa maupun massa yang ada di dalam kampus, selain teriakan-teriakan.
Seorang pedagang kopi di sekitar lokasi, Mumu, juga mengaku tidak melihat adanya pelemparan bom molotov ke arah aparat.
“Kalau batu sama teriakan memang ada,” katanya.
Baca Juga: Bekerja di Luar Negeri Tak Sama dengan Liburan, Karyawan Butuh Dukungan dan Persiapan Matang
Mengingatkan akan tragedi Kanjuruhan
Alasan polisi yang menyebut asap gas air mata tertiup angin, mengingatkan publik pada tragedi Kanjuruhan pada Oktober 2022 lalu.
Saat itu, ribuan penonton panik setelah gas air mata ditembakkan di Stadion Kanjuruhan.