PejuangKantoran.com - Konten tentang indahnya bekerja di Australia (atau di negara lain) mudah sekali kita temukan di media sosial. Gaji besar, hidup nyaman, dan kesan bahwa Australia adalah “jalan pintas” menuju kehidupan yang lebih baik.
Masalahnya, tidak semua konten itu menampilkan gambaran yang utuh. Banyak juga yang sekadar clickbait demi monetisasi, padahal efeknya bisa jadi persoalan serius.
Mekarisa Asharina, kreator konten pemegang Work and Holiday Visa (WHV), menilai fenomena ini cukup memprihatinkan. Menurutnya, banyak influencer asal Indonesia terlalu fokus pada konten yang berorientasi uang.
Baca Juga: 3 Kisah Pahit Pengejar Visa WHV Australia: Antara Janji Media Sosial dan Realita yang Kelam
"Sebagian besar orang yang nonton konten ini berada di Indonesia di mana pendapatan tahunan jauh lebih rendah," katanya, seperti dikutip ABC Net Australia.
"Nggak heran kalau banyak yang akhirnya mencoba jalan yang seharusnya tidak mereka tempuh, hanya untuk datang ke Australia."
Konten-konten tersebut hanya menonjolkan sisi glamor tanpa menjelaskan risiko dan tantangannya.
"Mereka (kreator konten) berharap konten mereka akan viral, tetap berada di halaman For You Page, dan menggunakan clickbait supaya mendapat views lebih banyak," katanya.
Padahal, menurutnya, clickbait sering berujung pada kesalahpahaman.
Mekarisa sendiri tidak menjadikan media sosial sebagai sumber penghasilan. Namun meski jumlah follower-nya jauh lebih sedikit dibanding influencer besar, ia tetap merasa punya tanggung jawab moral.
Baca Juga: Buntut Kasus Roti O, BI Tegaskan Tak Ada yang Boleh Menolak Pembayaran Tunai dari Pembeli
Jika menemukan informasi yang menyesatkan, ia memilih untuk bersuara.
"Saya lebih suka kalau satu atau dua orang menerima informasi yang akurat dan bertindak berdasarkan informasi tersebut daripada tetap diam," katanya.
Lebih indah dari kenyataan
Pendapat senada juga datang dari Catherine, penerima WHV yang tinggal di Perth. Ia menilai banyak influencer tidak membahas sulitnya kehidupan di Australia.