news

Risiko Aksi Mogok Awak Kabin Lufthansa Meningkat setelah Serikat Pekerja Tolak Perubahan Jam Kerja

Rabu, 11 Maret 2026 | 15:31 WIB
Maskapai penerbangan asal Jerman, Lufthansa (LH), terancam gelombang aksi mogok dari serikat pekerja awak kabinnya. (Lufthansa)

PejuangKantoran.com - Sepertinya wisatawan yang berniat terbang melalui hub besar seperti Bandara Frankfurt (FRA) atau Bandara Munich (MUC) perlu mulai waspada.

Kabarnya, maskapai asal Jerman, Lufthansa (LH), terancam gelombang aksi mogok dari karyawannya. Hal ini terjadi setelah negosiasi antara pihak maskapai dengan serikat pekerja awak kabinnya, UFO (Unabhängige Flugbegleiter Organisation), menemui jalan buntu.

Masalah utamanya ada pada rencana perubahan aturan kerja atau yang dikenal sebagai Manteltarifvertrag (MTV). Aturan ini sangat penting karena mengatur segala hal mulai dari jam kerja, penjadwalan tugas, kebutuhan waktu istirahat, hingga uang sakit bagi awak kabin.

Baca Juga: Orang yang Masih Suka Membuat To Do List dengan Tulisan Tangan Ternyata Punya Kepribadian Ini

Lufthansa ingin melakukan perombakan besar-besaran demi efisiensi biaya operasional. Tapi, pihak UFO merasa usulan tersebut terlalu mengekang manajemen atas jadwal dan kondisi kerja mereka, sehingga mereka memilih untuk langsung mundur dari negosiasi.

Kenapa Lufthansa sampai nekat menekan karyawannya sedalam ini?

Jawabannya ada pada angka. Meskipun Lufthansa merupakan maskapai besar, performa finansialnya ternyata lagi kurang baik kalau dibandingkan dengan anak perusahaan lain di Lufthansa Group.

Bayangkan saja, pada 2025 Lufthansa meraup pendapatan sebesar 17,1 miliar euro, tapi labanya cuma 148 juta euro. Artinya, margin operasinya hanya sekitar 0,9 persen.

Angka ini sangat jomplang kalau kita melihat SWISS yang bisa mencapai margin 9,3 persen, atau Eurowings di angka 4,3 persen. Bahkan Brussels Airlines dan Austrian Airlines masih lebih baik.

Jadi, Lufthansa menganggap perubahan tersebut penting untuk menjaga daya saing jangka panjang dan mendanai pembaruan armada serta peningkatan produk.

Baca Juga: Siap Jadi Ocean Ambassador? Simak Syarat & Cara Daftar Mermaid & Merman Indonesia 2026!

Tidak heran kalau CEO Lufthansa Carsten Spohr menyebut maskapai inti ini sebagai "anak bermasalah" karena biaya tenaga kerja yang tinggi dan struktur kerjanya yang dianggap sudah kuno.

Di sisi lain, para awak kabin merasa sedang dipojokkan. Sebelumnya, situasi sudah cukup panas gara-gara penutupan CityLine yang kemudian diganti dengan unit baru bernama Lufthansa City Airlines.

Isunya, kru di unit baru ini ditawari kontrak dengan gaji lebih rendah dan fasilitas yang lebih sedikit. Nah, biasa deh, isu sensitif kayak gini jelas memicu kekhawatiran soal masa depan nasib mereka.

Kebuntuan itu meningkatkan risiko serikat pekerja akan menggunakan aksi mogok yang dapat menghentikan ratusan penerbangan dalam satu hari.

Halaman:

Tags

Terkini