Pejuangkantoran.com – Ternyata ada salah satu praktik profesional yang bisa meningkatkan produktivitas, yaitu dengan cara “mengatur bos”. Ya, betul, ini bukan berlebihan, tapi memang praktik profesional bagaimana kamu managing up.
Managing up adalah keterampilan mengelola hubungan kerja dengan atasan secara proaktif. Tujuannya agar komunikasi, ekspektasi, dan hasil kerja berjalan lebih efektif.
Tentu saja intinya bukan secara harfiah “mengatur bos”, tetapi menyesuaikan cara kerja kita agar selaras dengan gaya, prioritas, dan kebutuhan atasan sehingga pekerjaan tim berjalan lancer dan ujung-ujungnya produktivitas bisa meningkat.
Konsep ini sering dibahas dalam literatur manajemen dan kepemimpinan, misalnya oleh John J. Gabarro dan John P. Kotter dalam artikel klasik mereka di Harvard Business Review (hbr.org) berjudul Managing Your Boss.
Managing up berfokus pada membangun hubungan kerja yang produktif dengan atasan. Caranya bisa melalui beberapa hal seperti berikut:
Baca Juga: Kamu Merasa Tidak Cocok dengan Cara Kerja Atasan? Begini Cara agar Tetap Waras dan Profesional
- Memahami gaya kerja atasan. Ini penting karena terkait dengan efektivitas komunikasi antara kamu dengan atasan. Ada atasan yang suka laporan detail, namun ada juga lebih suka yang garis besarnya dan ringkas. Ada atasan yang lebih suka berkomunikasi lewat email, chat, dan ada juga yang lebih senang ketemu langsung atau melalui rapat.
- Memahami prioritas dan tujuan atasan. Atasan itu ibarat nakhoda kapal, ia pasti punya tujuan ke mana kapal akan berlayar dan berapa waktu yang ditargetkan untuk mencapaianya. Dengan mengetahui target yang sedang dikejar atasan, kamu jadi bisa menyelaraskan pekerjaanmu dengan target tersebut.
- Memberi informasi yang tepat waktu. Time is money itu ada benarnya, apalagi di era digital yang serba cepat ini. Informasi penting yang tersampaikan terlambat atau tidak tepat waktu bisa berdampak domino pada performa perusahaan atau organisasi. Oleh karena itu, kamu wajib menginformasikan perkembangan pekerjaan secara proaktif, tanpa menunggu sampai atasan bertanya.
- Mengantisipasi kebutuhan atasan. Salah satu manfaat kamu tahu tujuan dan target atasan adalah kamu jadi lebih siap akan kebutuhan data atau solusi sebelum diminta. Ini bisa dimanfaatkan untuk memberikan opsi keputusan jika ada masalah.
- Menyampaikan masalah secara konstruktif. Dalam sebuah kerja tim, semua bagian berperan sesuai posisi masing-masing. Oleh karena itu kamu semestinya tidak hanya membawa masalah, tetapi juga alternatif solusi.
Baca Juga: Hanya 6% Gan Z yang Ingin Jadi Manajer di Tempat Kerja, Pilih Berkembang tanpa Jadi Atasan
Contoh praktik managing up di kantor:
- Tanpa managing up: Pegawai hanya mengerjakan tugas yang diminta dan menunggu instruksi berikutnya.
- Dengan managing up: Pegawai:
- memberi update progres pekerjaan,
- mengingatkan deadline penting,
- menyiapkan opsi keputusan untuk atasan.
Managing up bukan menjilat atasan, bukan memanipulasi atasan, atau mengambil alih otoritas atasan. Yang dilakukan adalah membangun hubungan kerja yang profesional dan strategis.
Dengan managing up, atasan jadi lebih mudah mengambil keputusan dan pekerjaan tim lebih efisien. Ujung-ujungnya, produktivitas meningkat dan performa membaik.
Yang mendapatkan manfaat tak hanya pemilik modal namun juga seluruh stake holder, termasuk karyawan dari level terbawah hingga teratas. ***
Artikel Terkait
Berasumsi Orang Lain Punya Pemahaman yang Sama, Salah Satu Kesalahan Komunikasi Atasan-Bawahan
11 Office Skills yang Dibutuhkan Oleh Posisi Mid Management Agar Kerja Tim Optimal
Alasan Penting Bagi Manajer Untuk Mengatur Manajemen Waktu dengan Bantuan AI
Panduan dan Contoh Prompt yang Bisa Digunakan Manajer Dalam Mengatur Manajemen Waktu
Nggak Semua yang Mendesak Itu Penting, Karyawan Perlu Menentukan Skala Prioritas dalam Bekerja!
Rahasia Kerja Tim yang Hebat: Mampu Bicara dengan Bahasa yang Tepat untuk Tiap Anggota