PejuangKantoran.com - Konflik yang terjadi ribuan kilometer jauhnya di Timur Tengah ternyata mampu menyadarkan banyak warga negara untuk melakukan penghematan dengan berbagai cara.
Jika di Indonesia kita didorong untuk menghemat BBM dengan bekerja dari rumah atau WFH sehari dalam seminggu, warga Singapura punya berbagai inisiatif untuk berhemat. Bahkan, mereka rela mengubah gaya hidup untuk bisa berhemat.
Konflik antara Israel dan Iran yang memicu kenaikan harga minyak global telah merembes masuk ke rumah-rumah warga Singapura. Seorang ibu memutuskan untuk tidur sekamar dengan anaknya yang berusia tujuh tahun.
Baca Juga: Atta Halilintar Garap Film Sepak Bola 'Garuda Di Dadaku' versi Animasi, Ajak Anak Berani Bermimpi
Itulah kenyataan pahit yang dihadapi Lalitha Dorairajoo. Sebagai pengemudi sewa swasta, kenaikan harga BBM dari S$80 menjadi S$100 lebih untuk sekali isi tangki benar-benar memukul dapurnya.
Kini, urusan menyalakan AC bukan lagi soal kenyamanan, tapi soal kalkulasi dompet yang rumit.
"Biasanya saya bukan tipe orang yang suka pakai AC, tapi cuaca sekarang, kabut asapnya, parah sekali. Kami tidak tahan tanpa AC, rasanya seperti sedang duduk di dalam oven," ungkap Lalitha.
Lalitha bukan satu-satunya warga Singapura yang harus ngirit habis-habisan. Hasil wawancara dengan puluhan warga menunjukkan bahwa sekitar 64 persen di antaranya sudah mulai mengubah gaya hidup.
Ada yang sekadar mandi lebih cepat atau mencabut kabel listrik yang tidak terpakai, tapi ada juga yang mengambil langkah drastis seperti meninggalkan mobil di rumah dan beralih ke transportasi umum.
Seorang konsultan manajemen kekayaan, Valerie Khoo, dulunya menyetir ke mana saja. Sekarang? Dia hanya memegang kunci mobil pada hari Minggu untuk membawa anjingnya salon. Sisanya, dia setia menunggu bus atau MRT.
Baca Juga: Deretan Status Whatsapp bakal Dipindah ke Bagian Atas Chat, Jadi Mirip Instagram Stories!
"Dulu saya menyetir untuk mengunjungi rumah klien yang jaraknya hanya 10 sampai 15 menit berkendara. Tapi sekarang, saya naik transportasi umum karena harga bensin terlalu tinggi," kata Valerie.
Meskipun waktu perjalanannya jadi dua kali lipat lebih lama, bagi Valerie, penghematan uang jauh lebih berharga saat ini.
Dr. Christopher Toh, pakar dari Singapore University of Social Sciences (SUSS), menjelaskan bahwa dampak ekonomi dari perang ini memang tidak bisa dihindari karena mengganggu jalur perdagangan global.
"Dampak perang Iran sejauh ini relatif terkendali di Singapura... Tetapi konflik tersebut, yang sudah memicu kenaikan biaya energi, telah merembes ke dalam kehidupan sehari-hari di sini, mendorong otoritas Singapura untuk mengambil tindakan guna meringankan beban tersebut," jelas Dr. Toh.