H&M Akan Tutup 160 Gerai di 2026, Ini Strategi di Baliknya

photo author
Christina A.S, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 11 April 2026 | 10:15 WIB
Produk asal Swedia HnM, IKEA, Electrolux, hingga Spotify terancam diboikot imbas pembakaran Alquran di Turki (Wikipedia)
Produk asal Swedia HnM, IKEA, Electrolux, hingga Spotify terancam diboikot imbas pembakaran Alquran di Turki (Wikipedia)

PejuangKantoran.com -  Industri ritel fesyen global kembali menunjukkan arah pergeseran yang semakin jelas. H&M mengumumkan rencana penutupan sekitar 160 gerai sepanjang tahun 2026, sebuah langkah yang mencerminkan perubahan strategi di tengah dinamika perilaku konsumen yang terus berkembang.

Alih-alih sekadar ekspansi fisik, H&M kini semakin fokus pada efisiensi operasional dan penguatan kanal digital. Penutupan ini bukan semata soal penurunan bisnis, melainkan bagian dari upaya restrukturisasi untuk menyesuaikan diri dengan pola belanja yang semakin bergeser ke arah online.

Dalam beberapa tahun terakhir, tren belanja memang mengalami transformasi signifikan. Konsumen kini lebih banyak beralih ke platform digital, mengutamakan kemudahan akses, kecepatan, serta variasi produk yang lebih luas. Di sisi lain, toko fisik tetap memiliki peran, namun dengan fungsi yang lebih selektif dan strategis.

Baca Juga: Swiss Menempati Peringkat Pertama Negara dengan Peluang Karier dan Pendidikan Tertinggi

Langkah H&M ini juga diiringi dengan rencana pembukaan gerai baru di lokasi-lokasi yang dinilai lebih potensial. Artinya, perusahaan tidak sepenuhnya meninggalkan model ritel konvensional, melainkan melakukan penyesuaian portofolio—menutup yang kurang optimal, sekaligus memperkuat titik-titik yang memiliki performa lebih baik.

Selain faktor perubahan perilaku konsumen, tekanan biaya operasional turut menjadi pertimbangan. Kenaikan biaya sewa, logistik, hingga tantangan rantai pasok global mendorong banyak perusahaan ritel untuk mengevaluasi kembali strategi ekspansi mereka.

Baca Juga: Mengapa Meeting yang Dibatalkan Mendadak Bikin Kita Merasa Punya Waktu Luang Lebih Lama?

Langkah serupa sebenarnya bukan hal baru di industri ini. Sejumlah brand global telah lebih dulu melakukan penyesuaian, menyeimbangkan antara kehadiran fisik dan digital demi menjaga relevansi di pasar yang semakin kompetitif.

Bagi H&M, keputusan ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mempertahankan daya saing. Fokusnya tidak lagi pada jumlah gerai, melainkan pada kualitas pengalaman pelanggan—baik secara online maupun offline.

Di tengah perubahan lanskap ritel, langkah ini menegaskan satu hal: industri fesyen tidak sedang melemah, tetapi sedang bertransformasi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Christina A.S

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X