“Generasi ini mungkin membutuhkan lebih banyak pelatihan dalam hal keterampilan profesional,” sambungnya.
Meskipun begitu, ada beberapa pihak yang membela karyawan Gen Z. Contohnya Adam Garfield, direktur pemasaran di Hairbro.
“Dibandingkan dengan generasi lain, saya menganggap Gen Z sangat inovatif, dan mudah beradaptasi.
“Mereka tidak takut untuk menantang status quo dan membawa ide-ide baru ke meja. Mereka juga menghargai keaslian dan keterbukaan, dan berharap perusahaan bertanggung jawab secara sosial dan etis,” ujarnya.
Namun, Garfield juga menambahkan peringatan.
“Satu area yang menurut saya dapat ditingkatkan oleh Gen Z di tempat kerja adalah keterampilan komunikasi mereka.
“Meskipun mereka mahir dalam menggunakan alat komunikasi digital, sepertinya mereka kekurangan beberapa keterampilan interpersonal yang diperlukan untuk interaksi tatap muka.
“Gen Z bisa mendapatkan keuntungan dengan mengembangkan keterampilan komunikasi mereka untuk membangun hubungan yang lebih kuat dengan kolega dan klien,” kilahnya.
Baca Juga: Bed Bath Beyond Ajukan Bangkrut, Karyawan Bakal di PHK
Berikut adalah beberapa alasan mengapa para manajer menganggap Gen Z sulit diajak bekerja sama:
• Kurang keterampilan teknologi: 39 persen
• Kurang usaha: 37 persen
• Kurang motivasi: 37 persen
• Kurang produktif: 37 persen
• Mudah teralihkan: 36 persen
• Keterampilan komunikasi yang buruk: 36 persen
• Mudah tersinggung: 35 persen
• Kurangnya dorongan: 29 persen
• Tidak jujur: 24 persen
• Menuntut hak: 21 persen
Apakah teman-teman pejuang kantoran menyadari hal tersebut? Kalau iya, tak ada salahnya untuk segera memperbaiki perilaku ini ya.