PejuangKantoran.com - Sejak awal minggu ini, layanan perbankan Bank Syariah Indonesia (BSI) mengalami gangguan. Awalnya pihak BSI mengatakan sedang melakukan pemeliharaan sehingga sistem tidak dapat diakses sementara waktu.
Namun, Teguh Aprianto, seorang konsultan keamanan siber memastikan bahwa BSI sudah menjadi korban ransomware. Hal itu disampaikan di akun Twitternya hari ini, Sabtu (13/8).
“Setelah kemarin seluruh layanan @bankbsi_id offline selama beberapa hari dgn alasan maintenance, hari ini confirm bahwa mereka menjadi korban ransomware,” tulisnya.
Menurutnya, total data yang berhasil dicuri dari BSI sebesar 1,5 TB. Dari data tersebut, 15 juta diantaranya merupakan data pengguna dan password untuk akses internal dan layanan yang mereka gunakan.
Baca Juga: Pelamar Tak Datang ke Jadwal Interview yang Sudah Dijanjikan? Ini Cara Menghadapinya
Data pelanggan yang bocor diantaranya:
- Nama
- No HP
- Alamat
- Saldo di rekening
- Nomor rekening
- History transaksi
- Tanggal pembukaan rekening
- Informasi pekerjaan
Selain itu, masih banyak lagi data pelanggan yang berhasil bocor akibat ransomware ini.
Tak hanya data nasabah, pendiri Ethical Hacker Indonesia ini juga mengatakan bahwa kebocoran juga terjadi pada data karyawan, dokumen keuangan, dokumen legal, NDA, dan lain sebagainya.
Meminta sejumlah tebusan
Teguh juga memberikan sejumlah screenshot yang memperlihatkan kalau BSI memang menjadi jadi korban ransomware.
Pelaku meminta sejumlah tebusan jika tidak ingin data yang disandera ini dipublikasikan. Meski tidak disebutkan berapa tebusan yang diinginkan, tetapi pelaku meminta BSI untuk segera menghubungi mereka.
"Jika Bank Syariah Indonesia menghargai reputasi, kustomer, dan partnernya, mereka akan menghubungi kami dan kamu (nasabah) tidak akan terancam. Jika tidak, kami merekomendasikan kamu untuk menghentikan segala kerja sama dengan perusahaan ini," katanya.
Bisa terjadi pada semua bank