news

5 Fakta tentang Tol Cisumdawu yang Baru Diresmikan Presiden Jokowi, Punya Terowongan Kembar!

Rabu, 12 Juli 2023 | 12:00 WIB
Penampakan Tol Cisumdawu yang indah dengan terowongan kembarnya. (PT Nindya Karya)

PejuangKantoran.com - Setelah lama dinantikan, Jalan tol Cileunyi - Sumedang Dawuan (Tol Cisumdawu) akhirnya diresmikan Presiden Joko Widodo, Selasa (11/7/2023) lalu.

Saat peresmian Tol Cisumdawu, Jokowi mengatakan bahwa tol tersebut menelan anggaran negara hingga Rp18,3 triliun. Namun, tidak semuanya berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Hanya Rp9,07 triliun dana pembangunan yang berasal dari APBN, sedangkan sisanya diperoleh dari skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).

Baca Juga: Ini Besaran Gaji yang Akan Diterima PPPK Part Time dan Cara Daftar di Situs Sistem Seleksi CASN

Berikut adalah beberapa fakta tentang Tol Cisumdawu yang perlu kamu ketahui.

Dibangun selama 12 tahun

Tak heran jika jalan bebas hambatan sudah sangat lama dinantikan oleh masyarakat sekitar. Ternyata, tol sepanjang 61,6 kilometer ini menghabiskan waktu pembangunan hingga 12 tahun sejak 2011 lalu.

Jokowi menjelaskan bahwa salah satu penyebab mangkraknya pembangunan Tol Cisumdawu adalah karena beberapa masalah di lapangan, terutama pembebasan lahan.

Sekarang, tol yang menghubungkan daerah-daerah di Jawa Barat ini menjadi satu-satunya tol yang memiliki terowongan kembar atau twin tunnel dengan diameter 14 meter dan panjang 472 meter.

Dibangun dengan teknologi khusus

Ada satu seksi di jalan Tol Cisumdawu yang dibangun menggunakan teknologi khusus, yaitu Geofoam EPS. Seksi tersebut adalah seksi 5A di Desa Cipamekar, Kecamatan Conggeang, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Geofoam EPS adalah inovasi pembangunan jalan tol dengan menggunakan material expanded polystyrene berupa high density polystyrene yang berbentuk balok-balok berbobot ringan.

Menurut Juru Bicara (Jubir) Kementerian PUPR, Endra S Atmawidjaja, teknologi ini digunakan karena ada beberapa area di seksi 5A yang rentan gerakan tanah sehingga tidak bisa ditangani dengan timbunan atau urugan tanah biasa.

Jadi, perlu ada timbunan yang banyak, tetapi strukturnya juga butuh penahan yang kokoh dan harganya cukup mahal.

Baca Juga: Targetkan LRT Jabodebek Beroperasi Sempurna, Kemenhub Lakukan Uji Coba Intensif

Halaman:

Tags

Terkini