PejuangKantoran.com - Bisnis cryptocurrency juga sepertinya tak bisa menghindar dari resesi. Binance dikabarkan telah memangkas ribuan karyawannya.
Wall Street Journal melaporkan bahwa salah satu perusahaan pertukaran mata uang kripto terbesar di dunia, Binance, memberhentikan lebih dari 1.000 karyawan dalam beberapa pekan terakhir.
"Saat ini kami terus berusaha untuk meningkatkan kepadatan talenta sehingga ada pemutusan hubungan kerja yang tidak disengaja. Hal ini terjadi di setiap perusahaan.
Baca Juga: Ini Plus Minus Kelas BPJS Kesehatan yang akan Dihapus, Berapa Iuran Terbarunya?
"Jumlah yang dilaporkan oleh media jauh sekali (dari yang sebenarnya)," kata CEO Binance Changpeng Zhao di akun Twitter-nya.
Bahkan, ia menyebut bahwa perusahaannya sampai saat ini masih merekrut karyawan baru.
Changpeng juga mengatakan bahwa selama enam tahun terakhir, Binance telah berkembang dari tim yang hanya berjumlah 30 orang menjadi hampir 8.000 orang di seluruh dunia.
“Saat kami bersiap untuk siklus kenaikan besar berikutnya, jelas bahwa kami perlu fokus pada kepadatan bakat di seluruh organisasi untuk memastikan kami tetap gesit dan dinamis," jelas juru bicara Binance.
PHK di bursa kripto terbesar di dunia ini terjadi saat masa depan industri di pasar Amerika tidak pasti, dengan regulator yang secara agresif menekan apa pun yang dianggap sebagai kegiatan ilegal.
Hal itu dilakukan hanya beberapa hari setelah mereka dilanda gelombang keluarnya para eksekutif yang bekerja di sana.
Minggu lalu, sejumlah pejabat eksekutif keluar dari Binance, termasuk Chief Strategy Officer Patrick Hillmann.
Baca Juga: Elon Musk Luncurkan xAI, Setelah Sempat Menyebut AI Menimbulkan Risiko Besar bagi Kemanusiaan
Harga Bitcoin kena dampaknya
Setelah Binance memberhentikan sekitar 1.000 karyawannya, harga Bitcoin anjlok pada Sabtu (15/7/2023) lalu.
Bitcoin merosot ke hampir $30.000 atau lebih dari Rp449 juta per token setelah berita tersebut muncul pada Jumat (14/7/2023) malam.