Selama satu setengah abad terakhir, teknologi telah meringankan beban tenaga kerja manual, mulai dari memanen tanaman hingga mengangkut barang.
AI adalah salah satu teknologi pertama yang bertujuan meniru apa yang dilakukan manusia dengan otak mereka daripada dengan tangan mereka.
“AI dirancang untuk meniru fungsi kognitif,” kata Kochhar. "Ini fungsi yang Anda lihat lebih banyak dilakukan dalam pekerjaan kerah putih di lingkungan kantor dibandingkan dengan lantai pabrik."
Baca Juga: Elon Musk Luncurkan xAI, Setelah Sempat Menyebut AI Menimbulkan Risiko Besar bagi Kemanusiaan
Di antara pekerja di bidang perhotelan, layanan, dan seni, 4 dari 10 pekerja tidak yakin tentang potensi dampak AI terhadap mereka, yang merupakan salah satu pangsa tertinggi di seluruh industri.
Empat belas persen responden bilang, AI akan lebih membantu daripada merugikan. Lebih dari seperempat pekerja di layanan profesional, ilmiah, dan teknis mengatakan, mereka memperkirakan AI akan lebih menguntungkan daripada merugikan.
Lalu, 23% pegawai pemerintahan, administrasi publik, dan militer mengatakan hal yang sama.
Pew menyurvei lebih dari 11.000 orang dewasa di Amerika pada Desember 2022 tentang sikap mereka terhadap AI di tempat kerja.
Dalam survei tersebut, 16% responden mengatakan, AI akan lebih membantu daripada merugikan selama 20 tahun ke depan. Sementara 15% responden mengatakan AI akan lebih merugikan daripada menguntungkan masa depan karyawan.
Pekerjaan yang paling terancam oleh AI biasanya di bidang yang gajinya lebih tinggi, yang cenderung membutuhkan tingkat pendidikan yang lebih tinggi.
Kemungkinan karyawan dengan gelar sarjana atau lebih tinggi (27 persen) untuk terdampak AI lebih dari dua kali lebih besar dibandingkan mereka yang memiliki ijazah SMA (12 persen).
Keterampilan berpikir kritis, menulis, sains, dan matematika, adalah peran yang lebih banyak terdampak AI. Sedangkan keterampilan mekanis, seperti merawat peralatan, lebih sedikit terpapar AI.
Baca Juga: Mayoritas Masyarakat Gunakan Teknologi dan AI Untuk Mendukung Pekerjaan
Karena pekerjaan wanita umumnya kurang terfokus pada pekerjaan fisik, mereka cenderung lebih terdampak AI (21%) dibandingkan pria (17%).
Matt Beane, asisten profesor manajemen teknologi di University of California di Santa Barbara, mengatakan bahwa banyak organisasi dan individu yang bekerja keras untuk membentuk pandangan positif tentang kecerdasan buatan.