- Pertamina: Rp1.323 triliun
- PLN: Rp441,1 triliun
- BRI: Rp208,1 triliun
- Bank Mandiri: Rp161 triliun
- Telkom Indonesia: Rp147,3 triliun
- MIND ID: Rp126,8 triliun
- Pupuk Indonesia: Rp103,8 triliun
- Semen Indonesia: Rp36,3 triliun
- Krakatau Steel: Rp34,9 triliun
- Garuda Indonesia: Rp32,7 triliun
- Bank Tabungan Negara: Rp28,1 triliun
- Kereta Api Indonesia: Rp25,5 triliun
- Wijaya Karya: Rp21,4 triliun
- PT PP: Rp18,9 triliun
- Vale Indonesia: Rp18,3 triliun
- Bank BTPN: Rp17,9 triliun
- Jasa Marga: Rp16,5 triliun
- Adhi Karya: Rp13,5 triliun
Metode perhitungan 100 Perusahaan Terbesar Indonesia
Karena perekonomian Indonesia sudah mulai pulih, kriteria untuk masuk dalam Fortune Indonesia 100 juga meningkat.
Jika pada 2021 perusahaan yang bisa masuk daftar harus membukukan pendapatan Rp8,41 triliun, maka pada 2022 perusahaan setidaknya harus membukukan pendapatan minimal Rp10,51 triliun.
Seperti dua tahun lalu, metodologi yang digunakan Fortune Indonesia mengacu kepada standar Fortune 500 yang sudah berusia 69 tahun.
Jadi, tim Fortune Indonesia mengkurasi laporan keuangan 2022 dari ratusan perusahaan terbuka dan tertutup.
Baca Juga: 81 Juta Milenial Belum Punya Rumah, Erick Thohir Bakal Bangun Rumah Harga Terjangkau
Meski ada masalah yang dihadapi, seperti laporan keuangan yang disajikan tidak akurat, bahkan mengarah ke manipulasi, tetapi selama belum ada keputusan tetap hingga batas waktu yang ditentukan—per 30 Juni 2023, data tersebut tidak bisa disanggah.
Menurut Fortune Indonesia, total pendapatan dari 100 perusahaan terbesar di Indonesia pada 2022 mencapai Rp5.632,52 triliun atau naik 28,55% dibandingkan periode sebelumnya.
Itu artinya 100 perusahaan ini berkontribusi terhadap 28,75% perekonomian di Indonesia dan perusahaan BUMN Pertamina menduduki peringkat pertama. (Elga Windasari)