news

Pria yang Insecure dengan Jabatannya Sering Flirting Di Kantor demi Kemajuan Kariernya

Selasa, 29 November 2022 | 13:11 WIB
Ilustrasi: Pria kerap menggunakan daya tarik seksualnya untuk memajukan kariernya. (Pexels/Yan Krukov)

PejuangKantoran.com - Kisah tentang flirting atau perselingkuhan di tempat kerja sudah lama ada. Banyak kejadian tentang laki-laki yang menggunakan jabatannya yang lebih tinggi untuk memanfaatkan perempuan yang (biasanya) lebih muda. Atau, wanita yang menggunakan godaan atau rayuan untuk memajukan karier mereka.

Sebuah studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Organizational Behavior and Human Decision Processes menyelidiki berbagai aspek perilaku seksual di tempat kerja. Hasilnya cukup mengejutkan, karena mematahkan stereotip bahwa wanita dengan jabatan lebih rendah paling memungkinkan menggunakan rayuan strategis sebagai cara untuk mengimbangi posisi kekuasaan mereka yang rendah.

“Faktanya, kami menemukan bahwa lebih sering pria yang merasa insecure dengan peran mereka di tempat kerja yang menggunakan perilaku seksual sosial yang tidak diinginkan untuk terlihat lebih maskulin dan kuat, bahkan ketika mereka tahu itu menyinggung wanita,” kata Laura Kray, psikolog yang mempelajari peran gender di Haas School of Business di University of California, Berkeley.

Baca Juga: Lowongan Virtual Assistant di Persona untuk Mendampingi Perusahaan Amerika

Dalam serangkaian percobaan online dan laboratorium, para peneliti memeriksa hubungan antara identitas seksual sosial —atau bagaimana orang menentukan daya tarik seksual mereka sendiri— dan bagaimana hal itu bisa mendorong peningkatan perilaku seksual sosial di tempat kerja yang mencakup rayuan, sindiran seksual, bahkan pelecehan.

Laki-laki tidak hanya lebih mungkin terlibat dalam perilaku seperti itu untuk keuntungan pribadi, para peneliti menyimpulkan, tetapi laki-laki di posisi jabatan yang rendah juga yang paling sering menggambarkan diri mereka sebagai "penggoda yang menawan" dengan "daya tarik seks" yang memulai perilaku seksual sosial agar tampak lebih dominan.

“Dengan kata lain, keinginan untuk lebih berkuasa —bukan memegang kekuasaan— yang merusak,” tambah Jessica A. Kennedy, profesor manajemen di Vanderbilt University. Mereka kemudian merasionalisasi perilaku tersebut, dengan mengatakan bahwa itu adalah hasil dari karakter mereka sebagai "penggoda hebat".

Baca Juga: Virtual Assistant, Pekerjaan Remote yang Lagi Diminati. Simak Cara Kerjanya!

Dalam percobaan lain, peserta diminta mengajukan pertanyaan yang tidak pantas secara seksual kepada rekan kerja lawan jenis dalam pertemuan perkenalan online. Salah satu contohnya, memilih antara menanyakan apakah pasangan mereka pernah mengalami konflik di tempat kerja (pertanyaan kontrol) versus apakah mereka pernah memiliki hubungan di tempat kerja (pertanyaan seksual sosial).

Para peneliti mengukur berapa kali peserta memilih pertanyaan seksual sosial. Terlihat, laki-laki lebih banyak memulai perilaku seksual sosial daripada perempuan —tetapi hanya ketika mereka berusaha untuk meningkatkan diri (misalnya, tampil dominan, berkuasa, memegang kendali). Perbedaan gender ini terkait dengan seberapa kuat pria-pria ini mengidentifikasi diri sebagai penggoda.

Sayangnya, seperti yang sering terjadi, banyak orang (biasanya pria) tidak memahami bahwa perilaku mereka tidak diinginkan atau dianggap terlalu agresif. Menggoda demi karier ternyata juga membutuhkan akal sehat.

Tags

Terkini