PejuangKantoran.com - Generasi Z atau Gen Z umumnya lahir pada periode 1996-2009 atau di kisaran usia 13 – 26 tahun. Mereka inilah yang menjadi angkatan kerja termuda saat ini, sehingga porsi dalam perusahaan belum terlalu besar. Namun seiring waktu, jumlah mereka pasti akan tumbuh dengan peran yang semakin penting.
HR Manager PT Global Urban Esensial & HR Operations Manager, Dexa Medica (Member Dexa Group) Friska Finalia Sitohang mengungkapkan, Gen Z sudah direkrut sebagai karyawan di Dexa Group sejak beberapa tahun lalu. Karyawan perusahaannya saat ini didominasi oleh Gen Y sebanyak 57%, Gen Z sebanyak 30%, sisaya Gen X sebanyak 13%.
Pada GUE Ecosystem, anak perusahaan Dexa Group yang bergerak di bidang online marketplace dan informasi kesehatan, Gen Y mendominasi first line management dengan komposisi 55%. Namun, Gen Z memiliki porsi sebanyak 45%. Mereka merupakan generasi digital yang mahir dan gandrung akan teknologi informasi dan berbagai aplikasi komputer.
Baca Juga: Lowongan Music Publishing Officer di PT Safinah Musik Entertainment
“Pada posisi seperti content creator leader, product management, growth management, dan hal-hal yang berhubungan dengan digital initiative biasanya sudah dipercaya untuk diisi Gen Z,” jelasnya dalam acara HR Talk 2022 dengan tema "A Framework for Leveraging the Uniqueness of the Generation Z di Jakarta akhir pekan lalu.
Dari sisi karakteristik, Friska mengatakan ada perbedaan mendasar antara Gen X, Gen Y, dan Gen Z yang bekerja di Dexa Group. Gen X biasanya lebih mencari keseimbangan antara kehidupan dan nilai dari organisasi atau work life balance. Sementara itu, Gen Y atau kalangan millenial mencari kebebasan dan fleksibilitas (freedom and flexibility) dalam pekerjaan.
Menurutnya, aspirasi dari Gen X dan Gen Y sangat jauh berbeda dengan karakteristik atau hal-hal yang dicari oleh Gen Z. Pekerja Gen Z di Dexa Group justru mencari rasa aman, khususnya terkait sisi finansial.
Baca Juga: Boleh Percaya, Boleh Tidak: 4 Zodiak yang Tidak Bisa Mengatasi Stres di Tempat Kerja
Banyak karyawan Gen Z yang tidak menolak jika mereka diberi tugas yang sangat banyak, asalkan ada imbal hasil yang didapat. “Beberapa Gen Z di tempat kami willing untuk bekerja lebih, as long as security and stability benar-benar dijaga,” ucapnya.
Gen Z juga dikenal dengan sebutan career multitasker. Mereka mungkin menjadi karyawan permanen di satu perusahaan. Namun, mereka bisa saja bekerja paruh waktu atau freelance di tempat lain. “Hal yang yang terpenting bagi Gen Z adalah mental health atau kesehatan mental. Pekerjaan masih bisa dicari,” ungkapnya.
Hal senada diungkapkan oleh Director of Graduate Program Universitas Prasetiya Mulya, Achmad Setyo Hadi. Menurutnya, Gen Z dikenal lebih mandiri serta menempatkan uang dan pekerjaan dalam daftar prioritas. Mereka juga tertarik memegang beberapa posisi sekaligus dalam perusahaan, jika itu bisa mempercepat kenaikan karier.
Baca Juga: Kasihan Amat, 2 dari 3 Milenial Tidak Mendapat Manfaat Break Makan Siang
Namun, Setyo menilai Gen Z cenderung kurang suka berkomunikasi secara verbal, egosentris, dan individualis. Itu sebabnya mereka memilih platform yang lebih bersifat privasi dan tak permanen.
“Jadi tantangannya sekarang, bagaimana Gen X dan Gen Y harus merekonstruksi sosialnya untuk memahami Gen Z. Demikian juga, kelak Gen Z harus mau merekonstruksi untuk menghadapi generasi Alpha, Beta, dan seterusnya,” pungkasnya.